Prasasti Batutulis & Mahkota Binokasih: Dua Saksi Bisu Kejayaan Sunda yang Mulai Terlupakan

Bandung – Berbicara tentang kejayaan masa lalu Tanah Pasundan, tak lengkap rasanya jika kita tidak menengok dua warisan luhur yang bernilai tak terhingga: Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih. Dua benda ini bukan sekadar batu bertulis atau perhi kerajaan biasa. Keduanya adalah simbol hidup, saksi otentik, dan bukti tak terbantahkan bahwa pernah berdiri sebuah peradaban besar, beradab, dan disegani bernama Kerajaan Sunda.

Sayangnya, di tengah hiruk-pikuk pembangunan zaman sekarang, dua peninggalan berharga ini seolah hanya menjadi nama dalam buku sejarah, atau sekadar objek wisata biasa. Padahal, di dalamnya tersimpan pesan besar tentang jati diri, kedaulatan, dan kemegahan leluhur kita.

PRASASTI BATUTULIS: BUKTI TERTULIS KEKUASAAN DAN ADAB

Berdiri kokoh di kawasan Batutulis, Bogor, prasasti yang ditulis atas perintah Raja Niskala Wastu Kancana ini adalah dokumen sejarah paling sahih. Di permukaannya terukir kisah panjang tentang kekuasaan, batas wilayah, hingga keteguhan hati para penguasa dalam menjaga kedaulatan negeri.

Apa yang membuatnya istimewa? Bukan hanya usianya yang ratusan tahun, melainkan isinya yang menggambarkan betapa tertatanya Kerajaan Sunda. Di masa ketika banyak bangsa lain masih dalam tahap pembentukan, Sunda sudah memiliki sistem pemerintahan yang rapi, hukum yang jelas, dan batas wilayah yang terukur. Prasasti ini berteriak diam-diam: “Dulu kita bangsa yang besar, yang tahu persis apa yang dimiliki dan bagaimana menjaganya.”

Namun ironisnya, hari ini banyak generasi muda yang bahkan tidak tahu persis letaknya, apalagi memahami makna setiap aksara yang tertulis di sana. Nilai sejarah yang seharusnya menjadi pedoman, perlahan hanya menjadi tugu yang diam dipandang tanpa dihayati maknanya.

MAHKOTA BINOKASIH: SIMBOL KEDAULATAN YANG TETAP BERCEMERLANG

Jika Prasasti Batutulis adalah bukti kekuasaan tertulis, maka Mahkota Binokasih adalah simbol puncak kedaulatan Kerajaan Sunda. Dikenal sebagai mahkota yang dikenakan oleh raja-raja Sunda, benda ini bukan sekadar perhiasan logam mulia. Ia adalah lambang kekuasaan yang sah, warisan leluhur yang diwarisi dari masa ke masa, hingga menjadi penanda bahwa takhta Sunda adalah takhta yang mandiri dan berdaulat.

Binokasih menyimpan filosofi mendalam: kekuasaan bukan untuk kemegahan semata, tapi untuk melindungi rakyat, menjaga keadilan, dan melestarikan budaya. Keberadaannya hingga hari ini—meski tersimpan dan dijaga ketat—adalah bukti bahwa kejayaan itu belum hilang sepenuhnya. Cahayanya masih ada, menunggu diingat kembali oleh anak cucunya.

Namun pertanyaannya: Seberapa sering kita mengangkat harkat dan martabat simbol ini di ruang publik? Apakah ia hanya dianggap benda kuno, atau kita sadar bahwa ini adalah sisa kejayaan yang harus kita bangkitkan kembali semangatnya?

KETINGGALAN YANG MULAI KERONTOK: KITA YANG LUPA

Masalah utamanya bukan pada benda peninggalannya, melainkan pada kita, pewarisnya. Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih kini menghadapi musuh paling berbahaya: kelalaian dan kelupaan.

Banyak yang lebih hafal sejarah bangsa asing dibanding sejarah tanah leluhurnya sendiri. Banyak yang lebih bangga mengadopsi budaya luar, namun asing dengan nilai luhur yang tertanam dalam dua simbol kejayaan ini. Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Bagaimana mungkin kita ingin maju dan berjaya di masa depan, jika jejak kejayaan masa lalu saja kita biarkan terkikis oleh waktu dan ketidaktahuan?

PESAN DARI LSM_GERRAM INDONESIA: BANGKITKAN KEMBALI KEHORMATAN ITU

Memasuki usia ke-17 tahun perjuangan kami, LSM_GERRAM INDONESIA menegaskan kembali bahwa perjuangan bukan hanya soal urusan ekonomi atau hukum semata. Melestarikan jati diri dan kebanggaan budaya adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan bangsa.

Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih adalah bukti bahwa orang Sunda adalah orang-orang hebat, yang pernah menguasai wilayah luas, yang memiliki tatanan hidup yang luhur. Tugas kita sekarang bukan hanya menjaga fisik bendanya agar tidak rusak, tapi yang lebih penting: menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Kepada seluruh elemen masyarakat, pemuda, budayawan, dan pemerintah: Mari kita jadikan kembali dua simbol ini sebagai kebanggaan tertinggi. Mari kita tanamkan ke dalam sanubari bahwa darah kebesaran Sunda masih mengalir di nadi kita.

Jangan biarkan Prasasti Batutulis hanya menjadi batu mati, dan Mahkota Binokasih hanya menjadi benda museum. Jadikan keduanya penyemangat: Bahwa jika dulu leluhur bisa berjaya, maka kita hari ini pun berhak dan wajib untuk kembali berjaya.

Karena sejatinya, Kejayaan Sunda itu belum selesai. Ia hanya sedang istirahat, menunggu kita membangkitkannya kembali./red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *