Pangandaran – Ronggeng Gunung. Bagi masyarakat Priangan Timur—khususnya warga Ciamis, Pangandaran, dan sekitarnya—nama ini bukan sekadar judul tarian. Ia adalah nyawa budaya, jejak leluhur, dan cerminan jiwa masyarakat yang hidup harmonis dengan alam dan adat istiadat. Seni yang memadukan gerak, lagu, magis, dan kebersamaan ini dulunya menjadi nafas kehidupan, hadir di setiap momentum penting: dari doa kesuburan tanah, ungkapan syukur panen, hingga pesta adat yang meriah.
Namun hari ini, satu pertanyaan besar menggantung dan terus bergema: “Apakah Ronggeng Gunung itu masih ada?”
Jawabannya: Masih ada, namun sedang berjuang mempertahankan nyawanya.
LEBIH DARI SEKADAR TARIAN: JENDELA PERADABAN
Ronggeng Gunung bukan sekadar hiburan. Sejarah mencatat, seni ini lahir dari rahim kebudayaan agraris masyarakat Sunda. Di dalamnya terkandung nilai ritual, doa, dan harapan. Penari utamanya—si Ronggeng—bukan sekadar penari, melainkan tokoh yang dipercaya memiliki koneksi spiritual, yang gerak dan lagunya menjadi jembatan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Ciri khasnya yang paling menonjol, di mana penari wanita mengajak penonton pria menari bersama dalam lingkaran, bukanlah ajang akrab-akrab semata. Di sana tersimpan filosofi persamaan derajat, kebersamaan, dan hilangnya sekat-sekat sosial saat sedang berpesta dan bersyukur. Gerakan yang luwes, iringan musik yang sederhana namun memikat, serta lirik lagu yang sarat nasihat dan sindiran halus, adalah kekayaan budaya yang tak ternilai harganya.
Ini adalah identitas asli orang Sunda bagian timur. Jika hilang Ronggeng Gunung, hilang pula satu bab penting sejarah peradaban kita.
MASIH ADA, TAPI TIDAK SAMA LAGI
Faktanya, hingga hari ini Ronggeng Gunung belum punah. Kita masih bisa menyaksikannya di desa-desa tertentu, di acara peringatan hari jadi daerah, atau di pentas budaya yang sesekali digelar pemerintah. Ada kelompok seniman yang masih berlatih, ada penari-penari tua yang masih setia menjaga warisan ini, dan ada sanggar yang berusaha mewariskannya ke anak muda.
Namun, keberadaannya kini sangat berbeda dibanding masa keemasannya dulu.
Unsur magis dan ritual yang menjadi akar lahirnya seni ini perlahan memudar, tergerus zaman dan pandangan baru. Frekuensi pertunjukan pun jauh berkurang; dulu hampir tiap desa punya kelompok sendiri dan tampil berkala, sekarang ia sering kali hanya menjadi “penghias acara” yang ditampilkan sesekali saja, bukan lagi bagian dari hidup sehari-hari masyarakat.
Yang paling memprihatinkan: generasi penerus makin menipis. Anak-anak muda sekarang lebih akrab dengan budaya populer luar, sementara tarian leluhurnya sendiri dianggap kuno, ketinggalan zaman, atau kurang menjanjikan secara materi. Kelestariannya kini hanya bertumpu pada bahu segelintir seniman tua yang berjuang dengan keterbatasan dana, perhatian, dan dukungan.
Ronggeng Gunung saat ini ibarat orang yang bernapas sisa-sisa, berjuang agar tidak mati suri ditelan arus modernisasi.
TANTANGAN: DIANTARA MENGHAPUS DAN MELENYAP
Ada ancaman nyata yang mengintai. Tanpa penanganan serius, Ronggeng Gunung berisiko menjadi “warisan budaya yang mati”—hanya ada di buku sejarah, foto lama, atau rekaman video, tapi tidak lagi hidup dan ditampilkan oleh masyarakatnya sendiri.
Sering kali kita bangga menyebutnya Warisan Budaya Takbenda, tapi sayangnya, pengakuan saja tidak cukup. Dibutuhkan kerja nyata: pembinaan, pendanaan, pembinaan minat generasi muda, dan pengemasan ulang yang cerdas tanpa menghilangkan jiwa dan makna aslinya.
Kita juga harus berani meluruskan pandangan. Kadang ada pandangan keliru yang menganggap tarian ini kurang pantas karena unsur interaksinya. Padahal, jika dipahami dan dikembalikan ke konteks aslinya, Ronggeng Gunung adalah seni yang penuh etika, sopan santun, dan nilai luhur. Mengharamkan atau menjauhkannya hanya karena salah paham, sama artinya dengan membuang identitas sendiri.
SUARA BKST: JANGAN BIARKAN IA HANYA JADI KENANGAN
Di usia kami yang lebih dari 30 tahun berjuang memperjuangkan hak dan nilai bangsa, khususnya seni tradisional Jawa Barat, Badan Kontak Seni Tradisional (BKST) Jawa Barat menegaskan:
Perjuangan keadilan dan kemajuan tidak terlepas dari upaya menjaga jati diri bangsa. Ronggeng Gunung adalah bagian dari darah daging kebudayaan Jawa Barat, khususnya Priangan Timur.
Masihkah ada? Masih ada. Tapi keberadaannya sedang di ujung tanduk.
Kepada pemerintah daerah, budayawan, dan seluruh masyarakat Ciamis, Pangandaran, dan sekitarnya:
Mari kita selamatkan Ronggeng Gunung. Jangan sampai nanti cucu-cucu kita hanya bertanya, “Om, Nenek, seperti apa sih Ronggeng Gunung itu? Kok cuma ada di gambar saja?”
Kita harus pastikan, nanti mereka bisa menjawab dengan bangga, “Ini Ronggeng Gunung, seni leluhur kita, yang masih ada, masih hidup, dan tetap kita banggakan sampai kapan pun.”
Melestarikan Ronggeng Gunung sama artinya dengan menjaga akar kita agar tetap kokoh berdiri. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan merawat warisan budayanya sendiri./djohar












