Tugu Rotan Cirebon: Simbol Megah yang Menangis Diam

Tugu Rotan Cirebon

Cirebon – Berdiri kokoh di gerbang masuk kota, tugu raksasa berbentuk anyaman rotan ini seolah menjadi saksi bisu sekaligus ironi terbesar. Megah, besar, dan gagah, persis seperti kejayaan masa lalu yang menjadikan Cirebon sebagai ibu kota kerajinan rotan Nusantara. Namun, di balik kemegahan patung besi itu, ada kenyataan pahit yang menusuk: para pengrajin aslinya kini terkapar, berjuang napas-napas terakhir di ambang kepunahan.

Dulu, nama Cirebon tak bisa dipisahkan dari rotan. Di setiap sudut desa, tangan-tangan terampil menenun, merangkai, dan membentuk batang liar menjadi karya bernilai seni tinggi, diminati pasar hingga ke mancanegara. Rotan adalah darah ekonomi warga, warisan turun-temurun, kebanggaan identitas kota. Tapi hari ini, kemegahan tugu itu makin kontras dengan kenyataan di lapangan: bengkel tutup, pengrajin makin menua, tak ada penerus, dan harga diri industri ini perlahan tergerus habis.

Kenapa bisa sampai di titik kritis ini? Jawabannya sederhana tapi mematikan.
Pertama, serangan barang murah. Plastik, besi, dan produk impor berdatangan, dijual dengan harga miring, praktis, dan disukai pasar massal. Masyarakat lebih memilih yang murah dan awet, tanpa peduli nilai seni, keaslian, maupun keramahan lingkungan. Karya tangan butuh waktu, butuh ketelitian, dan pasti lebih mahal—nilai yang kini dianggap kemewahan tak terjangkau.

Kedua, rantai pasok putus. Bahan baku rotan alam makin langka dan mahal, sementara kebijakan dan dukungan pasokan tak menjangkau akar rumput. Pengrajin kecil harus bertarung sendiri menahan kenaikan harga, sementara hasil jualnya tak sebanding dengan keringat yang diteteskan. Keuntungan tipis, kadang hanya cukup untuk makan hari itu saja.

Ketiga, dan yang paling mematikan: hilangnya minat penerus. Kaum muda enggan menyentuh rotan. Bagi mereka, menganyam adalah kerja berat, kotor, melelahkan, dan pendapatannya tak menentu. Mereka lebih memilih lari ke kota, pabrik, atau sektor lain yang dianggap lebih bergengsi dan menjanjikan. Akibatnya, ilmu rahasia anyaman yang ada ratusan tahun ini kini hanya tersimpan di kepala orang-orang tua. Saat mereka pergi, bisa dipastikan warisan budaya ini ikut lenyap bersama mereka.

Yang paling menyakitkan: pemerintah seolah hanya puas dengan tugu dan sebutan “Kota Rotan”. Dukungan nyata, inovasi desain, pembukaan akses pasar baru, hingga perlindungan industri ini terasa minim dan terlambat. Kita sibuk memajang simbol kebesaran masa lalu, tapi membiarkan isinya mati perlahan.

Tugu raksasa itu masih berdiri. Ia diam melihat kenyataan: kalau tak ada langkah nyata segera, 5 atau 10 tahun lagi, yang tersisa hanya patung besi ini. Nama Cirebon sebagai pusat kerajinan rotan tinggal tulisan di buku sejarah, dan anak cucu kita nanti hanya akan bertanya: “Dulu apa sih hebatnya rotan Cirebon?”

Ini bukan sekadar mati surinya industri kerajinan. Ini adalah kehancuran identitas, hilangnya kearifan lokal, dan bukti kita gagal menjaga apa yang menjadi milik kita sendiri.

Jangan biarkan tugu ini hanya jadi monumen peringatan kehancuran. Rotan Cirebon masih bisa diselamatkan, tapi waktunya tinggal sedikit. Kalau kita diam saja, kemegahan di foto itu nanti hanya jadi kenangan terakhir.
Simbol megah tak ada gunanya kalau yang disimbolkan sudah tiada./djohar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *