Tantangan Cek PPATK: Tertawa Sinis Melihat Cara Berpikir Pejabat

Nanik S. Deyang, Kepala Badan Gizi Nasional, baru saja melempar tantangan terbuka. Menurut laporan Majalah Tempo edisi 7 Juni 2026, saat ditanya soal dugaan sejumlah yayasan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terafiliasi dengannya, ia menjawab:

“Apa kaitannya yayasan ini dengan saya? Silakan cek PPATK apakah ada aliran uang dari yayasan ini kepada saya.”

Membaca kalimat itu, reaksi yang muncul bukanlah rasa lega, melainkan tertawa sinis. Seolah-olah jika tidak ada catatan transfer antar rekening yang terdeteksi Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), maka berarti semuanya bersih dan bebas dari masalah.

Inilah pemahaman yang terlalu sempit, atau justru cara berkelit yang sudah sangat terlatih.

Zaman sekarang, siapapun yang sudah lama berkecimpung di lingkaran kekuasaan dan proyek bernilai triliunan rupiah tentu paham betul: uang tidak harus ditransfer lewat rekening untuk sampai ke tangan yang dituju.

Bisa diserahkan secara tunai tanpa bukti, lewat perantara yang tidak tercatat, diwujudkan dalam bentuk aset, fasilitas, atau keuntungan usaha yang diberikan kepada kerabat dan rekan dekat. Semua itu bisa dilakukan sedemikian rupa sehingga aroma transaksinya tidak akan pernah tercium sampai ke meja PPATK.

Memang tidak mungkin pejabat atau pengusaha yang cerdik hanya mengandalkan jalur resmi yang mudah dilacak. Mereka tahu di mana celahnya, bagaimana menyamarkan hubungan, dan membuat jejak seolah-olah tidak ada kaitan sama sekali.

Jadi, tantangan untuk memeriksa PPATK itu sah-sah saja, tapi jauh dari cukup untuk membuktikan tidak ada penyimpangan. Pertanyaan utamanya bukan hanya: apakah ada uang masuk ke rekening pejabat? Melainkan: apakah ada hubungan istimewa, pengaruh, atau keuntungan yang dinikmati secara tidak langsung dari penunjukan yayasan-yayasan tersebut?

Kalau pengawasan hanya berhenti pada pengecekan catatan transfer bank, maka kasus semacam ini akan selalu berakhir dengan jawaban: “Tidak ditemukan aliran uang”, padahal sesungguhnya kepentingan sudah terpenuhi dengan cara yang lebih rapi dan tersembunyi.

Kita tidak sedang menghadapi orang bodoh. Kita sedang menghadapi sistem dan pola yang sudah dipelajari bertahun-tahun. Maka, cara mengawasinya pun tidak boleh hanya mengandalkan satu pintu saja./djohar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *