KabarKami.News – Jakarta – Ia mengaku sebagai pencipta hoax terbaik. Sebuah pengakuan yang jujur sekaligus mengerikan, yang mengungkap bagaimana satu kebohongan bisa menggetarkan perhatian publik, mengganggu stabilitas politik, dan berujung pada jeruji penjara.
Peristiwa itu terkuak pada 3 Oktober 2018. Ratna Sarumpaet akhirnya angkat bicara jujur, mengakui bahwa cerita soal dirinya diserang orang tak dikenal hanyalah rekayasa semata. Tujuannya sederhana namun menyembunyikan hal pribadi: ia ingin menutupi bekas luka operasi plastik yang baru saja dijalaninya agar tidak diketahui oleh keluarga terdekatnya.
Dikutip dari laporan Majalah Tempo saat itu, Ratna sempat berujar dengan nada yang penuh penyesalan sekaligus pengakuan:
“Ternyata saya adalah pencipta hoax terbaik, kebohongan saya telah menghebohkan negeri.”
Kebohongan yang semula dianggap sebagai laporan korban kekerasan itu segera berbalik menjadi badai besar. Dampaknya tak hanya mengenai dirinya sendiri, tapi juga merembet ke lingkaran politik tempat ia bernaung. Tak lama setelah pengakuan itu, Ratna langsung diputuskan hubungan kerjanya dari tim kampanye pasangan calon Prabowo Subianto–Sandiaga Uno untuk Pilpres 2019.
Bahkan, tercatat dalam peristiwa itu, Nanik Sudaryati Deyang—nama yang kini juga menjadi sorotan publik terkait Program Makan Bergizi Gratis—turut berperan melaporkan perkembangan kasus ini kepada Prabowo Subianto, memastikan pimpinan mengetahui fakta yang sebenarnya sebelum mengambil keputusan tegas.
Namun perjalanan kasus ini belum berhenti di situ. Keesokan harinya, tepat saat Ratna hendak melangkah ke pesawat menuju Chile untuk menghadiri sebuah konferensi internasional, petugas kepolisian menahannya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di ranah hukum, karena hoax yang disebarkannya telah menimbulkan keresahan masyarakat dan kekacauan informasi.
Kisah ini menjadi pengingat abadi: kebohongan sekecil apa pun yang dikemas sedemikian rupa, jika disebarkan ke ruang publik, akan tumbuh menjadi masalah besar yang tak mudah dikendalikan. Ia membuktikan bahwa di era informasi, kebenaran memang lambat datang, tapi saat terungkap, konsekuensinya selalu menyusul tanpa ampun./*djohar*
Sumber: Arsip Majalah Tempo, Laporan Kepolisian, dan Dokumentasi Tim Kampanye 2019








