Jakarta – Di tengah riuhnya tudingan dan bantahan yang saling bersahutan, publik kembali dihadapkan pada satu ujian klasik: apakah kita tetap berpikir jernih… atau ikut terseret dalam arus opini yang belum tentu benar.
Isu yang menyeret nama tokoh publik—siapa pun dia—seringkali tidak berdiri sendiri. Ia hadir dalam ekosistem yang penuh kepentingan, emosi, dan agenda tersembunyi. Tudingan dilempar, respons hukum disiapkan, lalu ruang publik berubah menjadi arena tarik-menarik persepsi. Di titik ini, kebenaran tidak lagi tampil apa adanya, melainkan dibungkus, dipoles, bahkan dipelintir.
Masalahnya bukan sekadar siapa yang benar atau salah. Masalahnya adalah bagaimana publik merespons. Ketika masyarakat terbiasa bereaksi cepat tanpa verifikasi, maka ruang publik perlahan kehilangan akalnya. Kita tidak lagi menjadi warga yang berpikir, tapi sekadar penonton yang mudah digiring.
Di sinilah letak bahayanya. Opini yang belum tentu benar, jika diulang terus-menerus, bisa berubah menjadi “kebenaran semu”. Sementara fakta yang sebenarnya, tenggelam oleh kebisingan. Inilah yang membuat tudingan—benar atau tidak—tetap punya daya rusak yang sama: merusak kepercayaan.
Maka bijak bukan berarti diam:
-
Bijak adalah menahan diri untuk tidak gegabah.
-
Bijak adalah memisahkan fakta dari prasangka.
-
Bijak adalah berani berkata “saya belum tahu” sebelum benar-benar tahu.
Kita boleh kritis, tapi jangan sinis. Kita boleh berani, tapi jangan ceroboh. Karena pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh pemimpinnya, tapi oleh cara rakyatnya berpikir.
Alhasil, jika kita ingin kebenaran tetap berdiri, maka jangan biarkan diri kita menjadi bagian dari kebohongan—meski hanya dengan ikut menyebarkannya.
/djohar












