Berita  

“Bang Jago, Kamera, dan Kejatuhan yang 4 Menit 47 Detik”

sebuah sudut indah bernama Gunung Galunggung, tepatnya kawasan wisata Citiis,

Tasikmalaya – Di sebuah sudut indah bernama Gunung Galunggung, tepatnya kawasan wisata Citiis, kita kembali diingatkan: yang sering “besar suara” belum tentu besar nyali—apalagi kalau sudah ketemu kamera.

Video berdurasi 4 menit 47 detik itu mendadak jadi tontonan nasional. Isinya klasik: seorang pria datang, nada tinggi, urat leher tegang, mengklaim diri sebagai “penguasa”. Warga? Disemprot. Situasi? Tegang. Aura? Seolah-olah hukum berhenti di depan vila itu.

Tapi ada satu hal yang sering dilupakan para “bang jago” era sekarang:
kamera tidak pernah tidur.

Dulu, mungkin cerita seperti ini selesai di tempat. Tidak ada saksi, tidak ada bukti, tidak ada jejak. Tapi hari ini? Satu rekaman bisa menjelma jadi “pengadilan sosial” yang lebih cepat dari proses resmi.

Dalam hitungan jam, yang tadinya merasa paling berkuasa… berubah jadi paling dikenal—dalam arti yang tidak menyenangkan.

Dan seperti biasa, babak akhirnya juga tidak asing:
klarifikasi dan permintaan maaf.
Nada suara yang sebelumnya tinggi, mendadak turun satu oktaf. Wajah yang tadinya garang, berubah lebih “humanis”.

Kalimatnya pun seragam: khilaf, emosi sesaat, tidak ada niat…
Seolah-olah 4 menit 47 detik itu hanyalah trailer, dan permintaan maaf adalah film utamanya.

Fenomena ini bukan sekadar soal satu orang. Ini cermin kecil dari kebiasaan yang lebih besar:
masih ada yang mengira “kekuatan” itu diukur dari seberapa keras kita bicara, bukan seberapa bijak kita bersikap.

Padahal di ruang publik hari ini, definisi kuasa sudah berubah.
Bukan lagi siapa yang paling ditakuti…
tapi siapa yang paling bisa menahan diri.

Ironisnya, di tempat seindah Galunggung—yang menawarkan ketenangan, udara segar, dan panorama alam—justru muncul tontonan yang penuh amarah. Seolah kita lupa, bahwa alam mengajarkan diam, bukan menghardik.
Akhirnya, kita belajar satu hal sederhana:
Kalau ingin dihormati,
jangan mulai dengan membentak.

Karena di zaman ini, satu teriakan bisa berujung satu video.
Dan satu video… bisa meruntuhkan “kekuasaan” yang dibangun dari suara keras semata./sarip

sebuah sudut indah bernama Gunung Galunggung, tepatnya kawasan wisata Citiis,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *