Setiap tanggal 21 April, kita kembali menyebut satu nama: Kartini.
Namun pertanyaannya jarang berubah—apakah semangat itu masih hidup, atau hanya menjadi seremoni tahunan?
Di tengah riuh politik dan hukum yang kerap membingungkan publik, ada satu nama yang kerap muncul dengan nada berbeda: Bivitri Susanti.
Bukan karena sensasi.
Tapi karena keberanian menjaga akal sehat.
Dari Akademik ke Ruang Publik,
Bivitri bukan tipe yang memilih diam di ruang kuliah. Sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, ia justru membawa ilmu keluar—ke ruang publik yang penuh riuh, bahkan bising.
Ia berbicara tentang konstitusi, demokrasi, dan kekuasaan—tiga hal yang sering dianggap terlalu “berat” bagi publik.
Tapi justru di situlah ia berdiri: menyederhanakan tanpa menyesatkan, mengkritik tanpa kehilangan pijakan.
Di saat banyak memilih aman, ia memilih jelas.
Jejak Perjuangan: Konsisten di Jalur Konstitusi
Nama Bivitri mulai dikenal luas bukan karena jabatan, tapi karena sikap.
Ia kerap mengkritisi:
praktik kekuasaan yang melampaui batas
pelemahan institusi demokrasi
hingga kecenderungan hukum yang lentur ke arah kepentingan, bukan tanpa risiko.
Di ruang publik hari ini, berbicara jernih sering berarti siap disalahpahami.
Namun ia tetap memilih berdiri—bukan sebagai oposisi, tapi sebagai penjaga nalar.
Kartini, dalam Wajah yang Berbeda
Jika Kartini dahulu melawan keterbatasan akses dan budaya, maka Kartini hari ini menghadapi tantangan yang lebih kompleks:
banjir informasi, kaburnya batas kebenaran, dan tekanan kekuasaan yang tak selalu terlihat.
Di titik ini, sosok seperti Bivitri menjadi relevan.
Bukan karena ia sempurna.
Tapi karena ia menunjukkan satu hal penting:
bahwa perempuan tidak hanya hadir dalam sejarah—
mereka juga aktif membentuk arah masa depan.
Bukan Tentang Siapa, Tapi Sikap
Mungkin pada akhirnya, pertanyaan “siapa Bivitri Susanti” tidak cukup penting.
Yang lebih penting adalah:
apa yang ia wakili?
Keberanian untuk berpikir.
Keteguhan untuk bersuara.
Dan kesediaan untuk berdiri di tengah—ketika banyak orang memilih sisi aman.
Alhasil, di Hari Kartini, kita tidak kekurangan nama untuk dirayakan.
Yang sering kita kekurangan… adalah teladan untuk diteladani.
Dan mungkin, di tengah zaman yang serba cepat ini,
Kartini tidak lagi hadir dalam bentuk yang sama.
Ia bisa hadir…
dalam suara yang jernih,
dalam kritik yang tajam,
dan dalam keberanian untuk tetap berpikir—
ketika dunia lebih suka bereaksi./djohar













