Sekolah Lantai: Ketika Masa Depan Duduk Bersila

dimana letak kenyamanan saat belajar? siapa sebenarnya yang harus membenahi masalah ini?

Majalengka – Di sebuah sudut Kabupaten Majalengka, masa depan Indonesia duduk bersila. Bukan karena tradisi. Bukan pula karena pilihan. Tapi karena keadaan yang tak memberi banyak alternatif.

Puluhan siswa sekolah dasar, berseragam merah-putih yang selalu kita banggakan setiap upacara, duduk rapat di lantai. Di depan mereka, sebuah proyektor menyala—simbol kemajuan yang sering dipamerkan dalam laporan-laporan resmi. Materi tampil rapi di layar. Teknologi hadir. Tapi, ironisnya, kenyamanan dasar justru absen.

Inilah wajah pendidikan kita: antara ambisi melompat jauh dan realitas yang masih tertatih.
Kita bicara tentang digitalisasi, transformasi, bahkan kecerdasan buatan. Tapi di ruang kelas ini, yang paling nyata adalah ubin dingin yang menjadi alas belajar. Anak-anak itu tidak mengeluh. Mereka mendengarkan. Mereka mencatat. Mereka belajar—dengan cara yang mungkin tak pernah dibayangkan oleh para penyusun kebijakan di balik meja rapat berpendingin udara.

Apakah ini potret ketangguhan? Ya.
Tapi lebih dari itu, ini potret ketimpangan yang dinormalisasi.

Sebab jika ketahanan dijadikan alasan untuk membiarkan keterbatasan, maka kita sedang pelan-pelan mengubah ketidakadilan menjadi kebiasaan.

Guru di depan kelas tetap mengajar dengan dedikasi. Mereka adalah garis depan yang tak pernah benar-benar diberi pilihan. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap berdiri, menyampaikan ilmu, menjaga nyala harapan.

Namun, sampai kapan peran heroik ini harus menutupi kekurangan sistemik?
Pertanyaannya sederhana, tapi sering dihindari:
Mengapa di era anggaran pendidikan yang besar, masih ada anak-anak yang belajar tanpa fasilitas layak?

Jangan buru-buru menjawab “ini hanya satu-dua kasus.”
Sebab sejarah menunjukkan, setiap ketimpangan besar selalu diawali dari hal-hal kecil yang dianggap biasa.

Anak-anak ini tidak butuh pidato panjang tentang masa depan. Mereka tidak menuntut jargon-jargon besar. Yang mereka butuhkan sederhana: ruang belajar yang manusiawi. Meja. Kursi. Kenyamanan minimum untuk tumbuh dan berpikir.

Jika tidak, kita sedang mengirim pesan diam-diam:
bahwa mimpi besar boleh saja, tapi fasilitas dasar adalah kemewahan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika mereka tumbuh dewasa, mereka akan mengerti—bahwa sejak kecil, mereka sudah diajarkan satu hal penting tentang negeri ini:
berjuang tanpa banyak berharap.

Padahal, sesungguhnya pendidikan seharusnya mengajarkan sebaliknya./timkerja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *