Tikus Piaraan Mulai Gerogoti BRI

Tikus Piaraan Mulai Gerogoti BRI, Bagaimana nasib Nasabah?

Ambon – Kasus Kredit Fiktif di Unit BRI Batu Merah, Kecamatan Sirimau Kota Ambon, tak lagi berhenti pada satu dua nama, pusaran kasus kredit fiktif di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Batu Merah kini menjelma menjadi daftar panjang—dan bisa jadi, memalukan.

Penyidik bergerak senyap, namun pasti. Satu per satu nama nasabah—yang diduga hanya “dipinjam identitasnya”—mulai masuk radar pemanggilan.

Ini bukan lagi soal kelalaian administratif. Ini indikasi sistemik: praktik yang terstruktur, berulang, dan diduga melibatkan lebih dari sekadar oknum lapangan, dan duit nasabah sejumlah hampir 1.9 milyar rupiah, nyaris lenyap.

Modus klasiknya sederhana tapi mematikan: kredit dicairkan atas nama nasabah, namun dana tak pernah benar-benar mereka nikmati. Ada yang tak tahu namanya dipakai, ada pula yang “dibujuk halus” dengan iming-iming.
Ujungnya sama—utang tercatat, tapi uang entah ke mana.

Pertanyaannya kini: siapa aktor intelektualnya?
Dalam kasus seperti ini, mustahil skema berjalan tanpa celah pengawasan.

Artinya, ada dua kemungkinan: sistem pengendalian internal lumpuh, atau justru ikut dimainkan. Keduanya sama-sama berbahaya bagi kepercayaan publik terhadap lembaga perbankan milik negara.

Lebih jauh lagi, daftar panjang nasabah yang akan dipanggil itu bisa menjadi pintu masuk membuka pola. Siapa yang paling sering muncul? Siapa yang memproses? Siapa yang menyetujui?

Dari sana, benang merah biasanya akan terlihat—apakah ini kerja individu nakal atau jaringan kecil yang sudah lama “bermain aman”.

Di titik ini, publik menunggu ketegasan. Bukan hanya memanggil nasabah sebagai saksi atau korban, tapi juga menyasar aktor utama di balik layar. Sebab jika tidak, kasus seperti ini hanya akan jadi siklus: mencuat, mereda, lalu hilang—tanpa pernah benar-benar dibongkar sampai akar.

Dan yang paling penting: jangan sampai korban justru menjadi pihak yang paling dirugikan—menanggung utang yang tak pernah mereka ajukan.

Ujungnya, karena ketika kepercayaan runtuh, yang dipertaruhkan bukan sekadar angka kredit—melainkan legitimasi sistem itu sendiri./red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *