Jejak yang “Nyasar”, atau Memang Dibiarkan Menyebar?

Gedung KPK, Sumber Gambar : RiauTime.com

Jakarta – Nama pengusaha rokok Khairul Umam alias Haji Her yang muncul dalam dokumen hasil penggeledahan di kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bukan sekadar detail administratif.

Ini seperti serpihan kecil dari puzzle besar yang selama ini disapu di bawah karpet.
Kalimat “jadi nyasar & berbiak ke mana-mana” bukan tanpa makna. Dalam praktiknya, dokumen-dokumen seperti ini jarang benar-benar “tersesat”.

Ia berpindah, disalin, diperbanyak—dan seringkali justru menunjukkan adanya jejaring yang bekerja, bukan kebetulan yang terjadi.

Pertanyaannya sederhana, tapi mengganggu:
Mengapa satu nama bisa muncul di ruang yang seharusnya steril dari kepentingan di luar prosedur?

Industri Rokok dan Jalur Abu-Abu
Industri rokok di Indonesia bukan sekadar bisnis. Ia adalah ladang besar—uang, cukai, distribusi, hingga relasi kekuasaan. Di titik ini, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menjadi gerbang utama: siapa lolos, siapa tertahan, siapa “dibantu”.

Ketika nama pengusaha masuk dalam dokumen internal, publik berhak curiga:
Apakah ini bagian dari pengawasan?
Atau justru indikasi kedekatan yang tak kasat mata?

Karena dalam banyak kasus, relasi antara pelaku usaha dan aparat tidak selalu hitam-putih.

Ada wilayah abu-abu—tempat kompromi, negosiasi, bahkan dugaan permainan.
Dari Satu Nama ke Jaringan
Yang perlu diwaspadai bukan hanya satu figur. Tapi efek domino:
Jika satu nama muncul,
maka ada kemungkinan nama lain,
dan jaringan yang lebih luas.

Dokumen yang “berbiak” seringkali justru menjadi petunjuk awal adanya sistem yang tidak sehat. Ia seperti akar—tidak terlihat di permukaan, tapi menyebar ke banyak arah.

Ujian Integritas Institusi
Kasus seperti ini bukan hanya soal individu. Ini soal integritas lembaga.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang diuji:
Apakah transparansi akan dibuka?
Atau justru ditutup dengan narasi “oknum”?

Publik sudah terlalu sering mendengar kata “oknum”. Padahal, jika pola terus berulang, itu bukan lagi oknum—melainkan sistem yang perlu dibenahi.

Kesimpulannya, jangan sampai hanya jadi cerita lalu
nama yang muncul hari ini bisa hilang besok, tertutup isu baru.

Tapi jika tidak ditelusuri, ia akan benar-benar “berbiak”—bukan hanya di dokumen, tapi dalam praktik.

Karena masalah terbesar bukan pada dokumen yang ditemukan,
melainkan pada kebenaran yang dibiarkan mengendap./djohar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *