Indeks

Dari Jalanan ke Istana?

SAID IQBAL, Ia bukan lagi sekadar pemimpin serikat pekerja. Kini ia telah menjadi aktor politik nasional.

Satu bulan kemudian, Said Iqbal resmi diangkat menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan.

Dulu suaranya menggelegar berteriak di depan pagar Istana. Kini ia duduk di dalamnya.

Pertanyaannya bukan lagi seberapa lantang orasinya, atau seberapa tegas perjuangannya di masa lalu. Pertanyaannya jauh lebih sederhana namun mendasar: Masihkah ia berdiri mewakili mereka yang di luar lingkaran kekuasaan? Atau kini telah menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri?

Gerakan buruh pun memasuki babak baru: dari oposisi yang berjuang di jalanan, kini masuk ke dalam ruang perumusan kebijakan negara.

Di titik inilah pengawasan publik menjadi sangat penting. Apakah suara kritis dan aspirasi pekerja akan tetap terjaga kemandiriannya? Atau justru akan melebur dan larut menjadi bagian dari suara penguasa?

Dalam demokrasi, rakyat tidak berkewajiban untuk percaya buta kepada siapa pun yang memegang jabatan. Rakyat memiliki kewajiban untuk mengawasi kekuasaan. Sebab sejarah telah membuktikan: kekuasaan yang tidak diawasi akan selalu menemukan celah untuk menyimpang dari tujuan semula.

Kini mata publik tertuju padanya. Apakah ia akan menjadi jembatan yang menyambungkan aspirasi akar rumput dengan kebijakan negara? Atau justru sebaliknya, menjadi bukti bahwa suara keras bisa diredam begitu saja dengan sebuah kursi di dalam istana?

Waktu yang akan menjawab. Tapi satu hal yang pasti: perjuangan tidak cukup hanya sampai di gerbang kekuasaan. Keberhasilan sesungguhnya diukur dari seberapa jauh ia tetap memegang teguh janji kepada mereka yang pernah ia wakili./redkk

Exit mobile version