Indeks

Di Balik Jaket Almamater: Ketika “BEM Bersatu” Menjadi Panggung Drama Politik Elit

steril itu pilihan bukan warisan

KabarKami.News – Jakarta – Foto sejumlah mahasiswa menangkap momen yang seharusnya mulia: sekelompok pemuda dalam jaket almamater berdiri tegak di depan mikrofon, mengklaim sebagai “BEM Bersatu” yang membongkar dugaan jejaring politik Tiyo Ardianto. Teks di layar menegaskan: “Mahasiswa Bukan Alat Elite.”

 

Ironisnya, justru di situlah letak paradoksnya.

Dalam sejarah pergerakan Indonesia, mahasiswa memang selalu menjadi barometer moral bangsa. Dari 1908, 1928, 1966, hingga 1998, mereka adalah kekuatan penyeimbang ketika institusi negara gagal. Namun, memasuki era demokrasi prosedural saat ini, garis antara “gerakan moral” dan “politik praktis” semakin kabur—bahkan sering kali hilang sama sekali.

 

Steril atau Hanya Ganti Master?

Pertanyaan “Masih sterilkah mahasiswa?” tidak bisa dijawab dengan hitam-putih. Yang terjadi saat ini bukanlah kehilangan idealisme secara total, melainkan kooptasi sistemik.

Di Balik Jaket Almamater: Ketika “BEM Bersatu” Menjadi Panggung Drama Politik Elit

Perhatikan foto tersebut. Mereka berdiri rapi, terorganisir, dengan narasi yang sangat spesifik menargetkan satu figur politik (Tiyo Ardianto). Ini bukan lagi gerakan spontan berbasis isu rakyat (seperti kenaikan BBM atau UU Cipta Kerja), melainkan gerakan yang terasa seperti operasi politik berkedok aktivisme.

 

Ketika BEM dari berbagai kampus “bersatu” hanya untuk menyerang satu lawan politik tertentu, publik berhak curiga: Siapa yang mendanai logistik pertemuan ini? Siapa yang menyusun narasinya? Dan apa kepentingan di balik layar yang menggunakan wajah-wajah muda ini sebagai tameng?

 

Bahaya “Aktivisme Sewaan”

Fenomena ini berbahaya bagi dua pihak:

Bagi Demokrasi: Rakyat menjadi bingung membedakan mana kritik substantif dan mana serangan politik yang dibungkus atribut kampus. Kepercayaan terhadap gerakan mahasiswa pun tergerus.

 

Bagi Mahasiswa Itu Sendiri: Mereka risiko kehilangan identitas sebagai “agent of change”. Jika hari ini mereka dipakai untuk menjatuhkan Si A, besok bisa saja dipakai untuk membela Si B demi proyek atau jabatan. Idealisme diganti dengan transaksi.

 

 

Ujian Integritas di Era Transaksi

Foto di atas adalah pengingat keras. Bahwa jaket almamater, yang dulu simbol kemurnian perjuangan, kini bisa saja hanya menjadi seragam panggung.

 

Mahasiswa masih memiliki potensi untuk steril, jika mereka berani menolak uang pelicin, menolak instruksi dari partai politik, dan kembali turun ke jalanan bersama rakyat miskin—bukan hanya berkumpul di ruang ber-AC untuk membaca pernyataan sikap yang sudah disiapkan oleh konsultan politik.

 

Jangan Biarkan Almamater Jadi Seragam Partai. “BEM Bersatu” seharusnya bersatu melawan ketidakadilan sistemik, bukan bersatu untuk kepentingan sesaat elit tertentu.

 

Jika foto ini hanyalah bagian dari drama politik elit, maka teks “Mahasiswa Bukan Alat Elite” yang terpampang di bawahnya hanyalah ironi paling menyakitkan. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat nama-nama di foto ini sebagai pahlawan, melainkan sebagai figuran yang lupa diri./sugiel

Exit mobile version