KabarKami.News – Setiap orang tua pasti pernah mendengar atau bahkan mengalami momen ketika anak meluapkan emosinya secara berlebihan—menangis, berteriak, menendang, atau meronta—yang sering disebut sebagai tantrum. Banyak yang mengira bahwa semua anak pasti akan mengalami hal ini dengan pola yang serupa. Padahal, kenyataannya tidak semua anak mengalami tantrum dengan intensitas, frekuensi, atau cara yang sama.
Ada anak yang mengekspresikan kekecewaannya dengan sangat tenang, hanya diam atau menyampaikan ketidakpuasannya dengan kata-kata sederhana. Bahkan, tidak sedikit anak yang hampir tidak pernah menunjukkan gejala tantrum yang terlihat jelas. Perbedaan ini adalah hal yang sangat wajar dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang membentuk karakter dan perkembangan anak.
Mengapa Setiap Anak Berbeda dalam Mengekspresikan Emosi?
Perbedaan cara anak merespons kekecewaan atau ketidaknyamanan tidak terjadi begitu saja. Ada tiga faktor utama yang menjadi penyebabnya:
1. Kepribadian Bawaan
Sejak lahir, setiap anak sudah memiliki sifat dasar yang unik. Ada anak yang secara alami lebih tenang, sabar, dan mudah beradaptasi. Sebaliknya, ada juga anak yang memiliki temperamen lebih aktif, sensitif, atau cepat merasa frustasi. Kepribadian ini menjadi dasar bagaimana mereka memandang dan merespons situasi di sekitarnya. Anak yang cenderung santai biasanya akan lebih mudah menerima kenyataan ketika keinginannya tidak terpenuhi, tanpa perlu meluapkan emosi secara berlebihan.
2. Tingkat Perkembangan Bahasa
Salah satu penyebab utama tantrum adalah ketidakmampuan anak menyampaikan apa yang ia rasakan atau inginkan. Ketika anak belum memiliki kosakata yang cukup untuk menjelaskan perasaannya, kekecewaan itu sering kali berubah menjadi tangisan atau kemarahan.
Sebaliknya, anak yang perkembangan bahasanya lebih maju mampu berkata, “Saya sedih karena mainannya diambil” atau “Saya tidak mau pulang dulu”. Ketika perasaan sudah bisa diungkapkan dengan kata-kata, kebutuhan untuk meluapkan emosi secara fisik akan jauh berkurang. Inilah sebabnya mengapa banyak anak yang terlihat “tidak pernah tantrum” ternyata justru sudah pandai berkomunikasi sejak dini.
3. Kecerdasan Emosional yang Tumbuh Sejak Dini
Kemampuan memahami, mengenali, dan mengelola emosi—atau yang sering disebut kecerdasan emosional—juga berperan besar. Anak yang dibiasakan untuk mengenali perasaannya sejak kecil, misalnya diajari bahwa “kalau keinginan tidak tercapai, boleh merasa kecewa tapi tidak boleh berteriak”, akan belajar mengendalikan diri. Mereka tidak memendam perasaan, tapi juga tidak membiarkan emosi menguasai dirinya.
Jangan Bandingkan Anak Anda dengan Anak Lain
Seringkali orang tua merasa khawatir atau justru merasa bangga secara berlebihan ketika melihat perbedaan ini. Ada yang bertanya, _”Kenapa anak teman saya tidak pernah tantrum, sedangkan anak saya sering?”_ Atau sebaliknya, _”Anak saya tidak pernah marah, apakah ini normal?”_
Perlu dipahami: Tidak ada standar baku yang menentukan berapa sering atau seberapa keras seorang anak harus meluapkan emosi. Yang terpenting bukanlah seberapa sering ia tantrum, melainkan apakah ia tumbuh menjadi anak yang mampu memahami perasaannya dan perlahan belajar mengendalikannya.
Anak yang jarang tantrum bukan berarti ia tidak memiliki emosi, ia hanya memiliki cara yang berbeda untuk menyalurkannya. Begitu pula anak yang sering meluapkan emosi—itu bukan tanda ia nakal, melainkan tanda bahwa ia sedang belajar mengenali dunianya dan masih butuh bimbingan untuk menemukan cara mengekspresikan diri yang tepat.
Cara Menyikapi Perbedaan Ini
Memahami bahwa setiap anak unik akan membantu orang tua memberikan tanggapan yang tepat:
1. Untuk anak yang cenderung tenang: Tetap ajak berbicara tentang perasaannya. Jangan biarkan ia memendam kekecewaan terlalu lama. Tanyakan, “Kamu sedih ya kalau mainnya dihentikan?” agar ia terbiasa menyampaikan apa yang ada di hatinya.
2. Untuk anak yang sering meluapkan emosi: Bersabarlah dan tunjukkan bahwa emosi itu wajar, tapi caranya yang harus diperbaiki. Katakan, “Ibu mengerti kamu marah, tapi berteriak tidak boleh. Coba bilang pelan-pelan apa yang kamu inginkan.”
3. Hindari membandingkan: Setiap anak punya waktu dan cara tumbuhnya sendiri. Fokuslah pada kemajuan kecil yang ia capai, bukan pada seberapa jauh ia berbeda dengan anak lain./djohar
