Indeks

Segel Pemda Majalengka Hanya Kertas? Excavator Galian Ilegal Cikeruh Kembali Menggila, Tapal Batas Desa Lenyap Digilas Mesin

Excavator Galian Ilegal Cikeruh Kembali Menggila, Tapal Batas Desa Lenyap Digilas Mesin

KabarKami.News. – Majalengka – Segel resmi Pemerintah Kabupaten Majalengka ternyata tidak lebih kuat dari selembar kertas basah. Malam ini, 12 Juni 2026 pukul 21.26 WIB, di tengah kegelapan Sungai Cikeruh perbatasan Desa Cibentar-Weragati, suara mesin excavator dan deru truk pengangkut material kembali memecah keheningan. Lokasi yang konon sudah “ditutup dan disegel” oleh Pemda beberapa hari lalu, kini justru menjadi panggung keserakahan yang menantang kewibawaan negara secara terang-terangan. Lebih parah lagi, tapal batas desa—simbol kedaulatan administratif—telah lenyap ditelan roda-roda besi raksasa. Ini bukan lagi sekadar galian ilegal; ini adalah pemberontakan terbuka terhadap hukum yang dibiarkan terjadi di bawah hidung penegak aturan.

Kejadian malam ini adalah tamparan keras bagi narasi “penertiban tegas” yang selama ini digaungkan pejabat daerah. Ketika segel dipasang namun aktivitas penggalian tetap berjalan lancar di malam hari, publik berhak curiga: apakah ini kelalaian pengawasan, atau ada kompromi terselubung antara oknum aparat dan pelaku usaha ilegal? Hilangnya tapal batas desa menambah dimensi kejahatan baru: selain merusak ekosistem sungai, para pelaku juga sedang menghapus identitas teritorial masyarakat setempat demi kepentingan ekonomi sesaat.

Bukti Nyata dari Warga: Kronologi Pelanggaran Malam Ini

Berdasarkan laporan langsung warga yang berada di lokasi pada pukul 21.26 WIB, berikut fakta-fakta yang tervalidasi:

Aktivitas Penuh despite Segel: Minimal satu unit excavator dan dua truk tronton terlihat aktif mengeruk dasar Sungai Cikeruh. Lampu sorot menyala terang, membuktikan operasi ini terencana dan dilengkapi logistik memadai—bukan aksi spontan pencuri pasir dadakan.

Penghilangan Bukti Administratif: Tapal batas beton/desa yang sebelumnya berdiri kokoh di tepi sungai kini hancur lebur. Materialnya bahkan diduga ikut dimuat ke dalam truk untuk dibuang atau dijual. Ini adalah tindakan penghancuran bukti fisik yang sengaja dilakukan untuk mengaburkan klaim kepemilikan lahan dan mempersulit proses hukum.

Ketiadaan Pengamanan: Tidak ada petugas Satpol PP, polisi, maupun dinas terkait yang berjaga di lokasi. Segel yang dipasang sebelumnya tampak robek atau dilepas paksa tanpa ada upaya penangkapan terhadap pelakunya saat itu. Ini mengindikasikan kelumpuhan sistem pengawasan lapangan yang fatal.

Tuntutan Mendesak kepada Pemda Majalengka, Polres, & Dinas ESDM Jabar

Kepada Yth. Bupati Majalengka, Kapolres Majalengka, dan Kepala Dinas ESDM Jawa Barat: Laporan ini bukan sekadar aspirasi warga biasa. Ini adalah dokumen pelanggaran hukum yang terjadi secara real-time. Kami menuntut: Tindakan Responsif Hari Ini Juga: Kirimkan tim gabungan (Polres + Satpol PP + Dinas ESDM) ke lokasi SEKARANG JUGA. Amankan alat berat, tangkap pelaku di tempat kejadian perkara (TKP), dan buat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sebelum fajar tiba. Jangan tunggu besok pagi saat jejak sudah hilang.

Audit Integritas Petugas Penyegel: Usut tuntas siapa yang memasang segel, siapa yang bertugas mengawasi, dan mengapa segel tersebut bisa dilanggar tanpa hambatan. Jika ada unsur pembiaran atau kolusi, proses hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.

Restorasi Tapal Batas & Rehabilitasi Sungai: Wajibkan pelaku untuk mengembalikan tapal batas desa sesuai koordinat asli dan melakukan reklamasi kerusakan sungai yang telah terjadi. Kerusakan lingkungan dan sosial ini harus dipulihkan, bukan hanya dikenai denda administratif.

Majalengka Tidak Boleh Kalah dari Keserakahan

Warga Cibentar dan Weragati tidak meminta belas kasihan; mereka meminta kepastian hukum. Ketika pemerintah daerah gagal melindungi wilayahnya sendiri, maka legitimasi kekuasaannya pun runtuh di mata rakyat. Galian ilegal Cikeruh malam ini adalah ujian nyata: apakah Pemda Majalengka benar-benar berpihak pada rakyat dan alam, atau hanya pandai membuat pernyataan pers sementara di lapangan mereka membiarkan keserakahan merajalela?

Bagi KabarKami.News, kami akan terus memantau perkembangan penanganan kasus ini hingga tuntas. Kami tidak akan menerima alasan “kendala teknis” atau “kurang personel”. Karena pada akhirnya, rakyat tidak butuh janji penertiban; mereka butuh sungai yang selamat dan tapal batas yang tegak. Dan jika malam ini masih ada mesin yang menggali di atas segel negara, maka yang terkubur bersamanya adalah harga diri pemerintahan daerah itu sendiri./djohar-is-ds

Exit mobile version