Bandung – Selamat pagi, Indonesia. Negeri yang katanya penuh harapan—meski kenyataan sering terasa seperti cat tembok yang menutupi retakan, bukan memperbaikinya.
Kita hidup di zaman di mana kebenaran bisa dinegosiasikan, integritas bisa dipoles, dan kesalahan bisa dikemas ulang jadi prestasi. Semua tampak rapi, selama tidak terlalu dekat melihatnya.
Di ruang publik, kata-kata besar bertebaran: reformasi, transparansi, akuntabilitas.
Namun di lorong-lorong sempit kekuasaan, yang berjalan justru: kompromi, koneksi, dan kalkulasi. Negeri ini tidak kekurangan aturan—yang sering hilang adalah keberanian menjalankannya.
Penegakan hukum tak lagi soal benar atau salah, tapi soal siapa dan seberapa kuat.
Dan keadilan? Kadang terasa seperti barang lelang—siapa berdaya, dia punya peluang.
Lebih ironis lagi, publik mulai terbiasa. Ketika penyimpangan jadi rutinitas, kejujuran justru terasa aneh. Ketika kebohongan diulang terus-menerus, ia pelan-pelan berubah jadi “versi resmi.”
Kita pun hidup dalam dua dunia: Satu dunia formal—penuh pidato, janji, dan seremoni.
Satu dunia nyata—penuh negosiasi diam-diam, tekanan, dan kepentingan. Di titik ini, pertanyaan pentingnya bukan lagi “apa yang salah?” Karena jawabannya sudah terlalu jelas dan terlalu sering diulang.
Pertanyaannya adalah: siapa yang masih punya keberanian untuk tidak ikut arus?
Sebab memperbaiki negeri ini bukan dimulai dari pidato megah, melainkan dari sikap kecil yang menolak tunduk pada kebiasaan buruk yang dianggap “normal.” Dan mungkin, perubahan tidak akan datang dari mereka yang paling berkuasa,
tetapi dari mereka yang masih cukup keras kepala untuk tetap jujur—
di tengah sistem yang lebih menghargai kepatuhan daripada kebenaran.
Selamat pagi, Indonesia, salam sejahtera Bangsaku.
Semoga kita belum sepenuhnya kehilangan rasa malu—
dan masih punya cukup keberanian untuk berubah, bukan sekadar terlihat berubah. Tetap Berfikir Merdeka, punya Sikap dan senantiasa berfikir adil dan benar. /catatan akhir pekan Redpel KabarKami.News












