Bandung – Kami ingin punya pikiran merdeka.
Bukan merdeka yang sekadar keras kepala, tapi merdeka yang lahir dari kesadaran: bahwa sejak kami tahu mana benar dan mana salah, kami punya kewajiban untuk tidak diam.
Kami tidak ingin lagi hidup dalam kepura-puraan.
-
Mengangguk saat tidak setuju.
-
Tersenyum saat hati menolak.
-
Atau berpura-pura suka demi menjaga kenyamanan semu.
Cukup. Itu bukan kedewasaan. Itu kelelahan yang disamarkan.
Namun di titik ini kami juga harus jujur: merdeka bukan berarti bebas melontarkan apa saja tanpa kendali. Sebab kebenaran yang disampaikan tanpa kebijaksanaan, bisa berubah menjadi kesombongan baru.
Kami belajar satu hal penting—bahwa keberanian berkata benar harus berjalan bersama tanggung jawab: apa yang kami sampaikan harus jelas, jujur, dan bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar pelampiasan emosi. Karena kalau tidak, kami hanya berpindah dari satu masalah ke masalah lain: dari munafik… menjadi reaktif.
Kami tidak peduli apakah orang suka atau tidak—itu benar. Tapi kami juga tidak boleh kehilangan arah: bahwa tujuan kami bukan untuk melukai, melainkan untuk meluruskan.
Di sinilah letak ujian sebenarnya:
-
Mampu berkata “tidak” tanpa menjadi kasar.
-
Mampu berbeda tanpa menjadi arogan.
-
Mampu jujur tanpa kehilangan nurani.
Kami memilih tidak pura-pura lagi. Tapi kami juga memilih untuk tidak sembarangan. Karena merdeka yang sejati bukan tentang kerasnya suara, melainkan tentang lurusnya isi dan bersihnya niat.
Kami akan bicara benar, tapi tidak asal bicara. Kami tidak akan pura-pura, tapi juga tidak akan kehilangan kendali.
Alhasil, tetap berpikir merdeka dan bertanggung jawab.
/djohar












