Indeks
Berita  

Antara Layak di Atas Kertas, Gagal di Dunia Nyata

Bandung – Di negeri yang gemar merapikan laporan, kelayakan sering kali berhenti di meja tanda tangan. Semua tampak rapi: dokumen lengkap, prosedur dijalankan, dan stempel basah seolah menjadi jaminan keselamatan. Hingga akhirnya, kenyataan datang tanpa aba-aba—dan tragedi pun terjadi.

Peristiwa di Cingambul, Majalengka Jawa Barat ini, jika ditelisik, seperti membuka dua kemungkinan yang sama-sama pahit:

  1. Uji kelayakan yang “lulus dengan catatan kecil” yang entah kenapa tak pernah dianggap penting.

  2. Human error—istilah yang sering jadi selimut empuk untuk menutupi kelalaian yang sebenarnya sistemik.

Ilusi “Sesuai Prosedur”

Satirnya, kita ini seperti penumpang yang diminta percaya pada kendaraan yang “katanya” sudah layak jalan. Kita tidak pernah diajak melihat remnya, tidak pernah tahu kapan terakhir kali diperiksa, tapi selalu diyakinkan: “Tenang, semua sesuai prosedur.”

Dan ketika sesuatu terjadi, kita kembali disuguhi narasi yang sama: investigasi akan dilakukan, evaluasi akan diperketat, dan kejadian serupa tidak akan terulang. Kalimat yang terdengar begitu familiar, seolah menjadi ritual wajib setelah musibah.

Keberanian untuk Jujur

Padahal, yang sering luput adalah keberanian untuk jujur. Bahwa kadang yang tidak layak tetap dipaksakan layak. Bahwa standar bisa lentur ketika berhadapan dengan kepentingan. Dan bahwa human error sering kali bukan sekadar kesalahan manusia, melainkan hasil dari sistem yang membiarkan kesalahan itu tumbuh.

Tragedi ini bukan sekadar soal siapa yang salah. Tapi soal bagaimana kita terlalu sering menganggap “cukup aman” sebagai “benar-benar aman.”

Alhasil, di situlah letak ironi terbesar kita: lebih sibuk memperbaiki narasi setelah kejadian, daripada memastikan tak ada kejadian sejak awal.

/djohar

Exit mobile version