Bandung – Di ruas Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya kawasan Cinambo hingga Gedebage, pemandangan ini bukan lagi kejadian luar biasa. Air menggenang, kendaraan merayap, dan jalan protokol berubah fungsi—dari jalur ekonomi menjadi aliran air dadakan.
Lebih ironis lagi, kondisi serupa terus berulang di Dayeuhkolot—wilayah yang seharusnya sudah lama menjadi prioritas penanganan banjir.
Pertanyaannya sederhana:
Ini bencana alam, atau bencana yang dibiarkan?
Banjir yang Terlalu “Rutin” untuk Disebut Musibah
Ketika hujan deras turun, skenario lama kembali diputar:
Drainase tak mampu menampung air
Jalan berubah jadi kubangan
Aktivitas warga lumpuh
Jika ini terjadi sekali dua kali, mungkin kita sebut musibah.
Namun jika terus berulang, ini adalah indikasi kegagalan sistemik.
Masalahnya Sudah Jelas, Tapi Mengapa Tak Tuntas?
Fakta di lapangan menunjukkan:
Drainase tak terawat: dangkal, tersumbat, dan kalah cepat dari debit hujan
Alih fungsi lahan: ruang resapan hilang, betonisasi merajalela
Tata kota tak disiplin: pembangunan tak lagi menghormati jalur air
Penanganan tambal sulam: bukan solusi permanen, hanya reaksi sesaat
Akibatnya?
Air selalu menemukan jalannya sendiri—dan jalan raya jadi korbannya.
Jalan Protokol, Tapi Rasa Drainase Kampung
Jalan Soekarno-Hatta adalah urat nadi kota.
Namun yang terjadi, kualitas infrastrukturnya seolah kalah dari jalan lingkungan yang dikelola dengan gotong royong.
Ini bukan sekadar ironi—ini alarm keras bagi perencanaan Kota Bandung.
Dayeuhkolot Kabupaten Bandung: Luka Lama yang Tak Pernah Sembuh
Di Dayeuhkolot, banjir sudah seperti agenda tahunan.
Janji penanganan silih berganti, proyek bergulir, tapi hasilnya belum menjawab akar masalah.
Apakah solusi yang ditawarkan selama ini benar-benar menyentuh hulu persoalan?
Atau sekadar meredam gejala tanpa menyembuhkan penyakit?
Saatnya Berhenti Menyalahkan Hujan
Hujan adalah kepastian alam.
Banjir adalah hasil dari keputusan manusia.
Jika setiap musim hujan Bandung selalu “tenggelam”, maka yang perlu dievaluasi bukan langit—melainkan kebijakan di darat.
Ujungnya, Publik Berhak Lebih dari Sekadar Janji
Warga tidak butuh narasi.
Warga butuh jalan yang bisa dilalui, bukan diseberangi seperti sungai.
Bandung tidak kekurangan anggaran.
Bandung tidak kekurangan perencanaan.
Yang dipertanyakan adalah: di mana eksekusi yang nyata dan berkelanjutan?/djohar
