Nasional – Di satu sisi, kita disuguhi pemandangan pesta pernikahan yang kian megah, mewah, penuh hiasan dan kemeriahan seolah menjadi panggung kebahagiaan abadi. Tenda tertata indah, dekorasi tak kalah dari acara kenegaraan, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai ratusan hingga miliaran rupiah, semata demi satu hari perayaan. Di sisi lain, ada fakta pahit yang menampar keras: angka perceraian terus menanjak drastis.
Data yang beredar menyebutkan, hingga pertengahan 2026 saja, jumlah perempuan yang berstatus janda akibat perceraian resmi sudah menembus angka lebih dari 5.000 orang. Angka itu pun belum mencakup perceraian lewat jalan nikah siri/agama atau talak di luar pengadilan — yang jika dihitung, bisa berkali-kali lipat lebih besar.
Pertanyaan yang tertulis di gambar tadi, menjadi pisau bedah paling tajam: Pernikahan itu ibadah, atau sekadar ajang gengsi? Mengapa pesta makin mewah, tapi keutuhan rumah tangga makin rapuh?
Kemegahan yang Menipu Hakikat
Sering kali, persiapan pernikahan habis-habisan justru tersedot untuk kemegahan acara. Keluarga bersaing mengeluarkan biaya besar, bukan lagi demi keberkahan, tapi demi penilaian orang lain. “Pestanya harus lebih bagus dari tetangga”, “harus terlihat mewah”, “jangan sampai dikatakan pelit”. Akibatnya, pasangan baru sering kali mengawali hidup berumah tangga dengan beban utang yang menumpuk, sementara pemahaman tentang makna pernikahan, tanggung jawab, dan kesabaran belum tentu matang.
Ibadah sejatinya adalah ketulusan, kesederhanaan, dan kesiapan memikul amanah. Namun yang terlihat sekarang: kemegahan acara dijadikan tolok ukur kebahagiaan, padahal kebahagiaan rumah tangga tidak terukur dari indahnya dekorasi atau mahalnya baju pengantin. Bahkan tak sedikit yang rela berutang besar demi satu hari kemeriahan, lalu di hari-hari berikutnya, persoalan ekonomi menjadi pemicu utama pertengkaran hingga berujung di meja sidang perceraian.
Angka 5.000: Luka di Balik Angka
Lebih dari 5.000 janda baru di tahun ini saja adalah angka yang mengerikan. Itu berarti ada lebih dari 5.000 rumah tangga yang kandas, lebih dari 5.000 pasang mimpi yang hancur, dan berapa ribu anak yang harus tumbuh dalam keluarga tak utuh. Belum lagi talak siri yang tak tercatat, di mana perempuan sering kali menjadi pihak paling dirugikan: tidak ada perlindungan hukum, tidak ada pembagian harta, tidak ada kepastian masa depan.
Di media sosial, kita kerap disuguhi dua wajah kontradiktif: di satu akun, ada unggahan pesta pernikahan bak pesta kerajaan; di akun lain, berita perceraian, perselisihan, dan kisah rumah tangga yang berakhir buruk menjadi konten yang ramai dibahas dan dikomentari publik. Seolah ada jurang dalam antara apa yang ditampilkan dan apa yang sesungguhnya dirasakan.
Apakah ini tanda bahwa kita lebih sibuk merawat penampilan pernikahan daripada merawat isinya? Lebih mementingkan bagaimana pernikahan terlihat di mata orang lain, daripada bagaimana pernikahan berjalan di dalam rumah sendiri?
Kembali ke Makna Asal
Pernikahan dalam ajaran agama dan norma sosial adalah perjanjian suci, ikatan janji seumur hidup, dan ibadah terpanjang bagi manusia. Tujuannya sederhana: membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warah — penuh ketenangan, kasih sayang, dan kedamaian.
Namun realitas angka perceraian yang terus melonjak menunjukkan ada yang salah di pemahaman kita. Kita terlalu banyak mengurus “kulit luar”, tapi lupa menguatkan “isi hati”. Kita berlomba tampil megah, tapi kurang bekal kesabaran, pengertian, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Fakta lebih dari 5.000 janda baru ini harus menjadi peringatan keras. Bahwa kemegahan pesta tidak menjamin keabadian hubungan. Bahwa pernikahan bukan ajang pamer, melainkan perjalanan panjang berdua yang butuh pengorbanan besar.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengukur pernikahan dari seberapa indah tendanya, tapi mulai mengukurnya dari seberapa kokoh pondasi kesetiaan dan saling memahami yang dibangun. Karena pada akhirnya, yang abadi bukanlah kenangan pesta, tapi keutuhan rumah tangga yang dijaga sampai akhir hayat.
Megahnya pesta hanyalah sehari, namun dampak perceraian terasa seumur hidup. Mari kembali pada hakikat: pernikahan adalah ibadah, bukan gengsi./suhe-usep-asepk
