Indeks

Istana Prihatin atau Meradang? Saat Dua Pilar KMP Runtuh Cuma dalam 48 Jam

Terseret kasus dugaan korupsi pelayanan WNA, pemerasan dan gratifikasi, Sylmi Karim di tahan KPK.

Jakarta – Ada ungkapan yang mengatakan, ” Kawan yang paling berbahaya adalah mereka yang menjaga kepercayaan di belakang punggungmu. ” Kalimat itu seolah-olah menjadi gambaran paling pas bagi situasi yang menimpa Kabinet Merah Putih (KMP) dan tentu saja, bagi Istana Negara sendiri, dalam dua hari terakhir.

 

Dunia politik tanah air terbelalak. Dua nama besar, dua sosok yang menjadi tulang punggung kekuatan pendukung pemerintahan utama, jatuh berturut-turut ke dalam jerat hukum. Ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi, keduanya hanya sekedar masalah biasa, namun terlibat dugaan yang sah dan penggelapan uang negara yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah. Yang bikin makin panas: kejadian ini beruntun, hanya berselang hitungan jam, kurang dari dua hari.

 

Kini, ada satu pertanyaan besar yang menggantung di udara: Bagaimana hati dan sikap di balik pagar putih Istana? Apakah mereka hanya diam memandang dengan rasa prihatin, atau di balik pintu tertutup itu, sedang meluap-luap rasa meradang karena kepercayaan yang dikhianati?

 

Antara Dukungan dan Duri dalam Daging

Selama ini, KMP adalah tameng politik pemerintahan. Di legislatif, di eksekutif, suara dan kekuatan mereka menjadi jaminan berjalannya agenda-agenda besar. Istana memberi ruang, memberi akses, dan menaruh harapan besar agar kekuatan ini bekerja demi rakyat dan negara. Namun, fakta yang terbongkar di belakangan ini menampilkan kerasnya realitas tersebut.

 

Alih-alih menjaga amanah, dua petinggi ini justru diduga menjadikan jabatan dan pengaruh politik yang mereka miliki sebagai alat mengeruk keuntungan pribadi. Proyek negara yang seharusnya membawa kesejahteraan, berubah menjadi sapi perah yang habis-habisan.

 

Di sini letak masalahnya: Jika yang dimaksud adalah lawan politik, Istana bisa saja tersenyum tipis atau membiarkan hukum berjalan. Tapi ini adalah kawan. Ini adalah orang-orang yang selama ini duduk sesemeja, berjuang bersama, dan mengaku setia. Tentu sangat wajar jika rasa khawatir muncul. Bukan hanya karena citra pemerintahan yang rusak parah di mata publik, tapi juga karena stabilitas politik yang tadinya kokoh kini berguncang hebat. Tanpa dua gambaran kunci ini, bagaimana nasib dukungan di parlemen? Bagaimana kelancaran kebijakan di depannya? Kekosongan ini adalah lubang besar yang sulit ditambal dalam waktu singkat.

 

Namun, kemungkinannya jauh lebih besar: Istana sedang meradang. Bagaimana tidak marah? Kepercayaan yang ditanamkan, ruang gerak yang dibebaskan, ternyata disalahgunakan untuk perbuatan kotor. Ini bukan sekadar kasus hukum biasa. Ini adalah bentuk pengabdian yang nyata. Apakah mereka sadar, bahwa setiap rupiah yang mereka ambil, setiap dokumentasi yang mereka tutupi, sama artinya merusak nama baik pemerintah yang mereka dukung?

 

Pertanyaan Tajam: Siapa Lagi yang Terlibat?

Jatuhnya dua petinggi ini dalam waktu yang sangat singkat juga menimbulkan ancaman baru. Apakah ini hanya suatu kebetulan? Atau ada “operasi bersih-bersih” yang mulai digulirkan? Apakah penegak hukum mulai berani membedah rahim kekuasaan, atau justru ini pertanda adanya perang dingin di dalam bentengnya sendiri, di mana saling menjatuhkan kini menjadi menu utama?

 

Yang paling membuat masyarakat geram: Dugaan korupsi semacam ini, hampir pasti tak mungkin dilakukan sendirian. Tak mungkin ada aliran uang ratusan miliar tanpa ada jejaring, tanpa ada perlindungan, tanpa ada keterlibatan pihak lain di atas atau di bawahnya.

 

Maka, pertanyaan publik kini bukan lagi hanya soal “apakah mereka bersalah?”, tapi ” siapa lagi yang menyusul? “. Apakah doa nama ini hanya di ujung gunung es? Apakah di baliknya masih ada nama-nama besar lain yang sedang mengalami ketakutan menunggu giliran diseret ke meja hijau?

 

Ujian Berat Integritas Istana

Kasus ini kini menjadi ujian terberat bagi sikap Istana. Pesan resmi yang selalu disampaikan adalah dengan tegas: “Tidak ada ampun bagi koruptor.” Tapi kenyataan saat ujian datang, saat yang bersalah adalah kawan dekat dan penopang kekuasaan, yang menjadi tolak ukur kebenaran itu.

 

Jika Istana diam saja, publik akan membaca ini sebagai pembiaran, sebagai bukti bahwa korupsi dilarang tapi dimaafkan jika dilakukan kawan sendiri. Jika Istana terlalu ikut campur atau terlihat membela, maka selesailah kepercayaan rakyat.

 

Kini, di titik ini, rasa prihatin atau rasa marah Istana bukan lagi hal yang terpenting. Rakyat tak butuh air mata, tak butuh kemarahan lisan. Rakyat hanya butuh satu hal: Keadilan yang ditegakkan sampai tuntas, tanpa pandang bulu, tanpa pandang kawan atau lawan.

 

Kejatuhan dua petinggi KMP adalah peringatan keras: Bahwa di negeri ini, kekuasaan politik bukanlah surga kebal hukum. Dan bagi Istana, ini adalah momen yang menentukan — apakah akan berdiri tegak bersama kebenaran, atau ikut terjerembap bersama mereka yang melestarikan amanah rakyat.

 

Mata kita muncul pada langkah selanjutnya. Apakah daftar nama tersangka akan bertambah panjang? Dan apakah hukum benar-benar namun terhadap siapa yang sedang berkuasa?

 

Korupsi adalah penyakit yang memakan tuan rumahnya sendiri. Dan hari ini, didukung oleh pendukung kekuasaan sedang merasakan demamnya yang paling tinggi._/ redkk

Exit mobile version