Di tengah perkampungan Jatiwangi, Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Garut, ada satu nama yang sudah lekat di hati warga dan para pecinta seni bela diri: Padepokan Pencak Silat TRI DAYA JAGA BAYA. Tahun ini, padepokan ini genap berusia sepuluh tahun—satu dekade perjalanan panjang yang bukan sekadar hitungan waktu, melainkan bukti nyata keteguhan hati, semangat persaudaraan, dan komitmen untuk terus menjaga serta mewariskan budaya asli bangsa kita.
Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Di tengah zaman yang terus berubah, di mana banyak hal mulai ditinggalkan atau terlupakan, Padepokan TRI DAYA JAGA BAYA justru terus tumbuh, berakar makin kuat, dan menyebarkan manfaat ke sekelilingnya. Nama yang disandangnya sendiri sudah mengandung makna yang dalam: Tiga Kekuatan untuk Menjaga dan Melindungi. Bukan sekadar gerakan bela diri, bukan sekadar latihan fisik, tapi ajaran yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan untuk menindas, melainkan untuk melindungi diri, keluarga, lingkungan, dan kebenaran. Itu inti dari ajaran silat yang sesungguhnya, dan itulah yang hidup dan diajarkan di sini dari tahun ke tahun.
Yang membuat perjalanan ini istimewa, semuanya tumbuh dan berkembang dari tanah sendiri, di tengah masyarakat sendiri, didukung oleh tangan‑tangan sendiri. Mulai dari yang pertama kali belajar, yang kemudian menjadi pelatih, hingga generasi muda yang kini ikut berbaris dan melangkah—semua menjadi satu ikatan persaudaraan yang tak terputus. Kegiatan seperti yang kita saksikan hari ini, dengan kirab, pembukaan, dan pertunjukan, bukan sekadar acara pesta, melainkan pernyataan: “Kami ada, kami bertahan, dan kami teruskan warisan ini untuk anak cucu nanti.”
Di zaman sekarang, keberadaan padepokan seperti ini memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar tempat latihan. Ia menjadi benteng jati diri, tempat anak‑anak muda dibentuk menjadi manusia yang tangguh secara fisik tapi lembut hatinya, pandai bertindak tapi tahu batas, berani tapi tetap sopan santun. Di tengah gempuran budaya luar dan perubahan gaya hidup, tempat‑tempat seperti inilah yang menjadi penyangga agar kita tidak kehilangan akar dan jati diri sebagai bangsa.
Tentu, sepuluh tahun perjalanan tak lepas dari rintangan, keringat, dan pengorbanan. Namun lihatlah hari ini: padepokan ini tetap tegak berdiri, makin banyak anak muda yang bergabung, makin luas manfaat yang tersebar. Ini adalah kemenangan yang paling indah—kemenangan untuk budaya, kemenangan untuk persaudaraan, dan kemenangan untuk masa depan.
Semoga di usia yang ke‑10 ini, Padepokan TRI DAYA JAGA BAYA makin jaya, makin berkah, dan terus menjadi tempat yang menumbuhkan manusia‑manusia berakhlak, berilmu, dan berjiwa pembela kebenaran. Semoga jalinan persaudaraan di dalamnya makin erat, semoga langkahnya terus dilancarkan, dan warisan luhur ini terus hidup, terus mengalir, dari generasi ke generasi./gun-yeye-pian












