Bandung – Ada yang pelan-pelan hilang dari diri kita—bukan harta, bukan jabatan, tapi jati diri. Generasi muda hari ini tumbuh dengan dunia yang serba cepat, serba instan, serba viral. Tapi di balik itu semua, ada satu hal yang diam-diam ditinggalkan: budaya sendiri.
Kita kenal banyak hal dari luar, tapi asing dengan milik sendiri. Nama-nama seperti Tarawangsa, Topeng Tolay, atau bahkan bunyi sederhana dari Karinding terasa jauh—seolah bukan bagian dari kehidupan kita lagi.
Ini bukan soal selera. Ini soal kehilangan arah.
Kebanggaan yang Berhenti di Kata
Kita sering bangga menyebut diri “orang Sunda”, tapi kebanggaan itu berhenti di kata. Tidak pernah turun menjadi tindakan. Kita lebih cepat menghafal tren daripada memahami tradisi; lebih sibuk mengejar pengakuan, daripada menjaga warisan.
Padahal budaya tidak pernah meminta kita menjadi ahli. Ia hanya meminta kita untuk tidak meninggalkannya.
Yang menyakitkan, para pelaku seni tradisi terus bertahan—dalam sunyi. Mereka menjaga api yang sama, sementara kita berjalan menjauh tanpa merasa bersalah. Mereka melestarikan, kita melupakan. Dan jika ini terus terjadi, maka satu hal pasti: budaya Sunda tidak akan mati karena zaman, ia mati karena anak-anaknya sendiri tidak lagi merasa memilikinya.
Modernitas dan Akar Tradisi
Ini tamparan untuk kita semua. Bahwa modern bukan berarti tercerabut dari akar. Bahwa maju bukan berarti melupakan asal. Bahwa keren bukan berarti harus meninggalkan yang lama.
Akhirnya, suatu hari nanti:
-
Ketika Tarawangsa hanya tersisa di museum,
-
Ketika Karinding hanya jadi pajangan,
-
Ketika Topeng hanya jadi cerita—
Jangan salahkan zaman. Salahkan diri kita yang pernah punya, tapi memilih meninggalkan.
/djohar












