Cirebon – Halal bi halal mestinya jadi momentum penyucian relasi. Tapi yang terjadi kini, ia makin mirip seremoni formal—datang, salaman, senyum, foto, lalu selesai.
Besoknya? Kembali dingin. Tak saling sapa. Bahkan kadang lebih asing dari sebelum Lebaran.
Ini gejala apa?
-
Pertama, formalisasi silaturahmi. Nilai spiritual dikemas jadi agenda sosial. Yang penting hadir, bukan hadir hati. Maaf diucap, tapi tak pernah diendapkan.
-
Kedua, inflasi makna maaf. Kata “mohon maaf lahir batin” diulang massal, tapi kehilangan bobot. Terlalu mudah diucapkan, terlalu ringan dilupakan.
-
Ketiga, relasi basa-basi. Banyak hubungan hari ini tidak dibangun atas ketulusan, tapi kepentingan sesaat. Saat momen lewat, ya selesai juga rasa “hangatnya”.
-
Ketiga, ego yang disamarkan. Halal bi halal jadi topeng. Orang merasa sudah “menunaikan kewajiban sosial”, padahal belum tentu benar-benar merendahkan hati.
Padahal dalam nilai Islam, silaturahmi itu bukan event musiman. Ia napas kehidupan. Ia diuji bukan saat berjabat tangan, tapi saat menjaga hubungan setelahnya.
Jadi kalau setelah halal bi halal tetap tak saling sapa, itu bukan gagal di acaranya—tapi gagal di kesadarannya.
Kesimpulan tajamnya: Hari ini kita tidak kekurangan momen untuk saling memaafkan. Kita hanya kekurangan kesungguhan untuk benar-benar memperbaiki hubungan.
/djohar
