Jakarta – Ini bukan sekadar pergantian pejabat biasa. Ini tragedi sekaligus ironi paling tajam: Pagi hari Dadan Hindayana masih berjalan beriringan, meninjau program unggulan bersama Presiden. Sore harinya dicopot dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional. Malamnya statusnya berubah jadi tersangka, lalu ditahan Kejagung . Perubahan nasib drastis dalam hitungan jam, membuat seluruh bangsa tertegun.
Apa sesungguhnya yang terjadi? Intinya hanya satu: Program andalan negara — Makan Bergizi Gratis — ternyata dijadikan lahan mencari untung pribadi .
Dugaan kerasnya: ada praktik jual beli titik layanan (SPPG). Tiap desa atau lokasi yang mau dibuka dapur layanan, harus bayar mahal ke pimpinan dan lingkar dalam. Belum lagi pengadaan kendaraan, bahan baku, dan operasional yang dimark-up besar-besaran. Uang negara yang seharusnya sampai ke perut anak-anak, malah disedot masuk kantong segelintir orang di puncak kekuasaan .
Paling menyakitkan: Dadan adalah orang kepercayaan, pernah diberi penghargaan tertinggi, diangkat langsung, dipercaya penuh. Bahkan ia buru-buru memotong ibadah haji, pulang lebih cepat cuma demi menemani Presiden, demi menjaga nama baik lembaga. Ternyata di balik senyum dan penampilan rapi itu, sedang berjalan penjarahan uang rakyat .
Mengapa secepat itu? Karena bukti sudah bertumpuk, jejak sudah terkuak, dan Presiden tak punya pilihan: Integritas program harus di atas segalanya, bahkan di atas persahabatan atau jasa. Begitu tahu uang rakyat dikorupsi, langkahnya tegas: habis jabatan, habis kebebasan. Tak ada ampun, tak ada perlindungan.
Alhasil, kasus ini bukti nyata: Korupsi tidak kenal jabatan, tidak kenal kedekatan, dan tidak kenal waktu. Kalau pejabat setinggi itu, seakrab itu, bisa jatuh dalam sekejap karena curang — apa lagi yang lain?
Ini juga peringatan pahit: Di balik program besar yang terlihat mulia, sering ada cakar-cakar yang diam-diam menggerogoti. Persis seperti apa yang kita temukan di desa-desa: dari investasi bodong, penagih kasar, hingga penyalahgunaan wewenang — benang merahnya sama: kepercayaan rakyat dikhianati, uang negara dirampok.
Dadan jatuh bukan karena dikhianati, tapi karena ia yang mengkhianati amanah. Dan nasibnya jadi cermin: _siapa pun yang main curang dengan uang rakyat, ujungnya pasti sama_ — dari kursi empuk sarat pundi2 berpindah ke sel tahanan./*djohar*










