Bandung – Di tengah hiruk-pikuk program bantuan yang sering lahir dan hilang seperti musim, Jawa Barat mencoba menghadirkan sesuatu yang terdengar lebih dalam: Beasiswa Pancawaluya.
Sekilas, ini tampak seperti program beasiswa pada umumnya—membantu individu agar tetap bersekolah, meringankan beban ekonomi, membuka akses pendidikan.
Namun jika ditelisik lebih jauh, ada sesuatu yang berbeda.
Ini bukan sekadar soal siapa yang dibantu.
Ini soal manusia seperti apa yang ingin dibentuk.
Lima Kata, Satu Arah Peradaban
Pancawaluya bukan istilah kosong. Ia memuat lima nilai:
cageur (sehat)
bageur (baik)
bener (benar)
pinter (cerdas)
singer (terampil).
Di titik ini, negara—atau setidaknya pemerintah daerah—tidak lagi hanya bicara angka dan anggaran.
Ia mulai bicara: karakter, integritas, jati diri manusia Sunda
Pertanyaannya:
sudah sejauh mana kebijakan publik berani menyentuh wilayah ini?
Di Antara Ideal dan Realitas
Gagasan besar selalu tampak indah di atas kertas.
Namun sejarah kebijakan di negeri ini mengajarkan satu hal:
yang sering gagal bukan konsepnya, tapi pelaksanaannya.
Beasiswa bisa berubah arah ketika:
seleksi tak lagi objektif
kedekatan lebih menentukan daripada kelayakan
nilai hanya dijadikan slogan administratif.
Di titik itu, Pancawaluya akan kehilangan ruhnya…
dan tinggal menjadi satu lagi program seremonial.
Bahaya yang Tak Terlihat: Ketika Nilai Jadi Branding
Yang paling berbahaya bukan kegagalan terang-terangan.
Yang paling berbahaya adalah: ketika nilai masih disebut… tapi tidak lagi dijalankan
“Cageur, bageur, bener, pinter, singer” hanya berhenti di baliho.
Sementara di lapangan:
disiplin longgar
integritas ditawar
tanggung jawab dilupakan.
Jika ini terjadi, maka:
Pancawaluya bukan membangun manusia—
tapi hanya mempercantik narasi.
Harapan yang Masih Terbuka
Namun kita tidak boleh sinis sepenuhnya.
Karena jika dijaga dengan sungguh-sungguh, program ini punya potensi besar:
melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga berkarakter
menghidupkan kembali nilai lokal di tengah arus globalisasi
menjadikan bantuan sosial sebagai alat transformasi, bukan sekadar distribusi.
Dan di sinilah letak bedanya: antara program yang habis di anggaran, dengan program yang hidup dalam peradaban.
Alhasil, ujian sesungguhnya
Pada akhirnya, Pancawaluya akan diuji bukan oleh pujian…
tapi oleh waktu.
Apakah ia akan:
melahirkan manusia yang bageur dan bener
atau
hanya menghasilkan laporan yang rapih tapi kosong makna?
Karena membangun gedung bisa selesai dalam satu periode.
Tapi membangun manusia…
selalu melampaui masa jabatan./djohar
