Jawa Barat – Angkanya bicara tajam: 800 calon siswa berebut cuma 480 kursi di SMAN 2 Majalengka. Rasio nyaris 2 lawan 1. Lebih dari 300 anak harus menelan kekecewaan, meski sudah berjuang mati-matian mengejar nilai dan poin. Pemandangan ini bukan pengecualian, tapi potret nyata yang terulang di seluruh Jawa Barat, termasuk Kota Bandung. Setiap ada sekolah berlabel “unggulan”, antrean pendaftar selalu membludak berkali-kali lipat dari kuota yang tersedia.
Ini bukti nyata: kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan negeri masih sangat tinggi. Tapi di balik antusiasme itu, tersembunyi masalah besar yang tak kunjung selesai: Ketimpangan kualitas dan pemerataan sekolah.
Kenapa semua orang berdesakan masuk ke tempat yang sama? Jawabannya sederhana: karena sekolah-sekolah lain belum dianggap setara. Masyarakat tahu betul, fasilitas, guru, lingkungan, dan peluang di sekolah favorit jauh lebih baik dibanding sekolah di pinggiran atau yang kurang populer. Pemerintah sudah gencar berupaya menyetarakan, tapi di mata orang tua, celahnya masih sangat lebar.
Sistem PPDB dengan jalur zonasi, prestasi, dan afirmasi dibuat untuk adil. Tapi kenyataannya, ia hanya memindai persaingan. Anak pintar terlempar karena jarak rumah beda beberapa meter, anak dekat rumah kalah poin, sementara kuota habis sekejap. Akibatnya? Stres melanda, strategi pindah alamat marak, dan anak-anak jadi korban tekanan sejak dini.
Fakta di SMAN 2 Majalengka adalah peringatan keras. Antusiasme tinggi itu kebanggaan, tapi ratusan anak yang tertinggal itu tanggung jawab negara. Jangan biarkan persaingan pendidikan berubah jadi ajang seleksi yang menyisakan kekecewaan.
Solusinya cuma satu: Perbaiki yang belum bagus, samakan kualitasnya. Jangan biarkan cuma segelintir sekolah yang jadi “primadona”, sementara yang lain cuma jadi tempat pelarian terpaksa.
Kalau semua sekolah sama bagusnya, tak akan ada lagi kerumunan 800 orang berebut 480 kursi. Anak bisa sekolah dekat rumah, orang tua tenang, dan pendidikan benar-benar jadi hak yang merata, bukan lagi hak istimewa di tempat tertentu.
Sekolah favorit itu bukan yang namanya besar, tapi yang kualitasnya sama hebat di mana pun berada./suhe-dens-af










