KabarKami.News – Bandung – Selama 1.095 hari, Yuvita Tri Rezeki (29) hidup dalam sunyi yang menyakitkan. Wanita asal Rancaekek, Kabupaten Bandung, itu hilang dari radar keluarga dan masyarakat, terjebak dalam siklus kekerasan dan penyekapan oleh orang yang seharusnya mencintainya: kekasihnya sendiri. Ketika akhirnya ditemukan pada Rabu (10/6/2026) di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, yang tersisa dari wajahnya hanyalah luka-luka parah yang menghancurkan struktur mulut dan rahangnya.
Penemuan Yuvita bukan hasil dari pencarian polisi yang sukses, melainkan sebuah kebetulan yang memilukan. Pihak keluarga baru mengetahui keberadaan putri mereka setelah menerima telepon dari pihak RSHS. Seorang pasien wanita tanpa identitas jelas, yang kondisinya kritis dan sulit dikenali akibat luka wajah, ternyata memiliki kecocokan data dengan Yuvita yang telah lama dinyatakan hilang.
“Mulut Habis”, Struktur Wajah Hancur
Kondisi Yuvita saat ditemukan sungguh memprihatinkan. Ia sempat tidak sadarkan diri akibat trauma fisik hebat. Meski kini sudah mulai sadar, korban masih belum mampu berbicara secara normal.
“Sudah sadar, cuma masih sulit buat berbicara karena mulut bagian depan habis. Harus dioperasi karena struktur wajah hancur,” ungkap Mey, perwakilan keluarga korban, dengan suara bergetar kepada KabarKami.News, Kamis (11/6/2026).
Luka tersebut bukan sekadar memar biasa, melainkan indikasi kekerasan fisik sistematik yang terjadi selama bertahun-tahun. Keluarga menduga kuat Yuvita menjadi korban penyekapan (confinement) dan penganiayaan berat oleh kekasihnya, seorang pria yang kerap mengaku kepada lingkungan sosialnya bahwa Yuvita adalah istrinya, meski keduanya tidak pernah menikah secara sah.
Modus Operandi: Pindah Kos Setiap Tiga Bulan
Investigasi awal mengungkap pola keji pelaku untuk menyembunyikan korban. Berdasarkan keterangan yang berhasil dikumpulkan, Yuvita dipaksa berpindah-pindah tempat tinggal secara rutin.
“Menurut korban, setiap tiga bulan sekali dia pindah kosan,” lanjut Mey. Pola perpindahan ini diduga merupakan strategi pelaku untuk memutus jejak dan mencegah korban membangun jaringan pertolongan atau dikenal oleh lingkungan sekitar. Lokasi terakhir tempat Yuvita disekap diduga berada di sebuah indekos di kawasan Cinunuk, tepat di belakang Griya Cinunuk, Kabupaten Bandung.
Detik-Detik Pengungkapan: Pelaku Memaksa Penjaga Kos Berbohong
Momen terkuaknya kasus ini sarat dengan manipulasi. Saat kondisi Yuvita memburuk hingga tak bisa lagi disembunyikan, pelaku panik. Ia meminta bantuan penjaga indekos untuk membawa korban ke RSHS. Namun, alih-alih jujur, pelaku memaksa penjaga kos tersebut untuk mendaftar sebagai “paman” atau kerabat korban di administrasi rumah sakit. Ini adalah upaya licik untuk menghindari keterkaitan langsung antara pelaku dan korban di rekam medis resmi.
Keanehan semakin terasa ketika proses pengantaran berlangsung. Pelaku terlihat membuntuti mobil yang membawa Yuvita dan penjaga kos menggunakan sepeda motor dari belakang. Namun, begitu korban masuk ke area penanganan medis RSHS, pelaku seketika menghilang. Ia melarikan diri sebelum petugas keamanan atau keluarga sempat menginterogasinya.
Pencarian Pelaku dan Trauma Keluarga
Hingga berita ini diturunkan, polisi masih memburu sosok kekasih Yuvita yang diduga kuat sebagai dalang penyekapan dan penganiayaan ini. Keluarga menyatakan shock dan marah. Mereka tidak menyangka bahwa anak mereka mengalami nasib sedemikian tragis di tangan orang kepercayaan.
Kasus Yuvita Tri Rezeki menjadi pengingat kelam tentang bahaya kekerasan dalam hubungan asmaranya (KDRT) yang sering kali tersembunyi di balik pintu tertutup indekos atau rumah tangga. Hilangnya nyawa sosial Yuvita selama tiga tahun adalah bukti kegagalan sistem perlindungan korban di tingkat komunitas.
Publik kini menunggu kepastian hukum. Apakah pelaku akan tertangkap? Dan yang lebih penting, bisakah Yuvita pulih dari luka fisik dan mental yang begitu dalam? Untuk saat ini, doa dan dukungan bagi pemulihan Yuvita adalah hal paling minimal yang bisa kita berikan.***










