Andrie Yunus: Ketika Luka Seorang Aktivis Menjadi Cermin Negara

Jakarta – Ada luka yang tidak hanya dirasakan oleh satu orang,
tetapi menggema ke seluruh ruang keadilan.
Kasus yang menimpa Andrie Yunus bukan sekadar peristiwa kekerasan biasa. Ia adalah simbol—tentang bagaimana suara kritis bisa dibungkam dengan cara yang paling keji.
Poster “Doa Bersama untuk Andrie Yunus” bukan hanya ajakan spiritual. Ia adalah jeritan sunyi yang dipaksa menjadi publik. Sebuah pengingat bahwa di negeri yang menjunjung tinggi hukum, masih ada warga yang harus menanggung derita karena keberaniannya bersuara.
Dari Air Keras ke Air Mata Keadilan
Simbol botol bertuliskan asam (H₂SO₄) dalam poster itu bukan sekadar ilustrasi.
Ia adalah metafora dari kerasnya realitas:
bahwa kekerasan bisa begitu nyata,
dan perlindungan negara bisa terasa begitu jauh.
Apa yang terjadi pada Andrie Yunus mengingatkan kita pada satu hal:
ketika aktivis diserang, yang diuji bukan hanya aparat penegak hukum, tetapi juga keberanian negara dalam melindungi warganya.
Aksi Solidaritas: Doa atau Gugatan Moral?
Kegiatan di Komnas HAM bukan sekadar doa bersama. Ini adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi namun paling dalam: solidaritas.
Di sana, doa berubah menjadi pesan:
bahwa publik tidak lupa,
bahwa publik tidak diam,
bahwa publik menuntut keadilan.
Tagar #KamiBersamaAndrie bukan tren—ia adalah pernyataan sikap.
Negara Tidak Boleh Absen
Dalam negara hukum, tidak boleh ada ruang bagi ketakutan untuk berbicara.
Tidak boleh ada pembiaran terhadap kekerasan, apalagi yang menyasar aktivis.
Pertanyaannya sederhana, tapi menohok:
Siapa pelaku sebenarnya?
Siapa yang menyuruh?
Mengapa sampai hari ini publik masih bertanya, bukan mendapat jawaban?
Jika kasus seperti ini dibiarkan mengambang, maka pesan yang sampai ke masyarakat sangat berbahaya:
bahwa keadilan bisa dinegosiasikan,
bahwa kebenaran bisa ditunda.
Penutup: Dari Andrie untuk Kita Semua
Andrie Yunus hari ini mungkin menjadi korban.
Namun sesungguhnya, ini adalah tentang kita semua.
Tentang apakah kita masih berani bersuara.
Tentang apakah negara masih layak dipercaya.
Tentang apakah hukum masih berdiri tegak tanpa pandang bulu.
Doa untuk Andrie adalah awal.
Namun keadilan untuk Andrie—itulah tujuan.
Dan selama itu belum tercapai,
maka suara ini tidak boleh berhenti.*djohar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *