Garut – “Kaderisasi mudah dikatakan, capaian sulit pisan” – kalimat ini bukan sekadar ucapan semata, melainkan realitas yang harus kita renungkan secara mendalam. Di tengah semangat sukarela yang seharusnya menjadi landasan, kita sering dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan: banyak yang masuk jalur kaderisasi hanya sekadar ikut-ikutan, dengan sikap ambivalen yang tidak jelas tujuan, kurangnya integritas yang seharusnya jadi pondasi, bahkan ada yang hanya melihatnya sebagai jalan untuk mengejar keuntungan uang semata.
Yang paling membuat kita lelah adalah ketika semangat militansi – jiwa pejuang yang seharusnya membara dalam diri setiap kader – sudah tidak terlihat lagi. Padahal, kaderisasi yang berbasis sukarela tidak boleh jadi alasan untuk mengabaikan pentingnya militansi. Militansi bukanlah tentang paksaan atau tekanan dari luar, melainkan rasa memiliki yang mendalam terhadap visi dan misi bersama, serta kesediaan untuk bertahan dan berkorban meskipun menghadapi berbagai rintangan.
Kita tidak bisa hanya berhenti pada tataran seleksi semata. Meskipun memperketat tahap pemilihan dengan mengukur motivasi dan karakter calon kader sangat penting, hal itu tidak cukup jika tidak diimbangi dengan upaya membangun semangat militansi yang tumbuh dari dalam hati. Program pembinaan harus fokus tidak hanya pada pengetahuan dan keterampilan, tapi juga pada pembentukan nilai-nilai integritas, rasa tanggung jawab, dan pemahaman yang benar tentang pentingnya tujuan yang kita juangkan.
Lebih dari itu, contoh nyata dari para pemimpin dan kader senior yang memiliki militansi kuat jauh lebih efektif daripada sekadar ceramah atau materi pembelajaran. Ketika calon kader melihat bagaimana figur-figur tersebut hidupkan nilai-nilai yang mereka ajarkan, berjuang tanpa pamrih, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, maka semangat militansi akan secara alami terinspirasi dan tumbuh dalam diri mereka.
Kaderisasi yang berkualitas bukanlah mimpi yang tak tercapai. Namun untuk mencapainya, kita harus berkomitmen penuh – tidak hanya dengan perkataan, tapi juga dengan tindakan nyata yang mengedepankan mutu daripada jumlah, dan menjadikan militansi sebagai jiwa yang menghidupi setiap langkah perjuangan kita./basir












