Dipilih Bersama, Tapi Tidak Selalu Sejalan

IRONIS.

Ada yang selalu menarik dari panggung politik lokal:
dua orang berdiri berdampingan saat kampanye, mengangkat tangan bersama, tersenyum pada rakyat—seolah takdir telah mengikat mereka dalam satu irama.

Namun, waktu sering bercerita lain.

Ketika pesta usai dan kursi kekuasaan diduduki, harmoni itu perlahan berubah nada. Yang dulu terdengar seperti duet, kini kerap terasa seperti dua penyanyi dengan lagu berbeda. Tidak selalu bertabrakan secara terbuka, tapi cukup untuk membuat publik bertanya: masihkah mereka satu arah?

Di sinilah letak keunikan sekaligus kejanggalannya.

Kita memilih mereka dalam satu paket—bupati dengan wakilnya, gubernur dengan pendampingnya. Tapi dalam praktik, kekuasaan tidak benar-benar dibagi dalam paket yang sama. Kepala daerah memegang kendali penuh, sementara wakil sering berada di ruang abu-abu: hadir, tapi tak selalu dilibatkan; dipilih, tapi tak selalu diberi peran.

Dari sini, jarak mulai tumbuh.

Sebagian memilih diam, menjalankan peran seadanya.
Sebagian lain mulai membangun jalannya sendiri—pelan, tapi pasti.
Dan ada pula yang, secara halus, mengubah kebersamaan menjadi kompetisi terselubung.

Ironis? Tentu. Tapi juga manusiawi.

Karena di balik jabatan, ada ambisi. Di balik kerja sama, ada masa depan politik yang dipertaruhkan. Lima tahun bukan sekadar masa pengabdian, tapi juga panggung untuk menentukan langkah berikutnya. Dan dalam panggung itu, tak semua orang puas hanya menjadi bayangan.

Sayangnya, sistem kita seperti membiarkan itu terjadi.

Kita belum benar-benar mendesain relasi kepala daerah dan wakilnya sebagai kemitraan yang utuh. Tidak ada batas peran yang tegas, tidak ada mekanisme pembagian kerja yang baku. Semua bergantung pada chemistry—yang dalam politik, sering kali lebih rapuh dari yang kita kira.

Maka jangan heran jika yang awalnya “paket kebersamaan” berubah menjadi “dua pusat kekuatan.”

Publik pun sering jadi penonton yang bingung.
Siapa yang benar-benar memimpin?
Siapa yang bertanggung jawab?
Dan yang lebih penting—siapa yang harus dipercaya?

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar soal dua individu yang tak akur. Ini tentang desain kekuasaan yang belum selesai. Tentang bagaimana kita masih menggabungkan dua figur dalam satu tiket, tanpa benar-benar memastikan mereka berjalan dalam satu arah.

Mungkin sudah saatnya kita jujur pada satu hal:
bahwa memilih bersama tidak otomatis berarti bekerja bersama.

Dan jika itu terus dibiarkan, maka setiap Pilkada hanya akan melahirkan satu hal yang sama—
duet yang indah di awal, tapi rawan sumbang di tengah jalan./djohar

Catatan Red. tentang Duet Kekuasaan yang Kerap Berubah Nada

Ilustrasi Memilih bersama, tapi yang di pilih tidak Bersama/Sejalan, IRONIS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *