Indeks

ANGKLUNG: DARI WARISAN BUDAYA HINGGA PERJUANGAN MELINDUNGI WARGA DESA DI BALIK SAUNG UDJO

Bandung – Bila menyebut angklung, nama Mang Udjo Ngalagena pasti tak bisa dilepaskan. Ia bukan hanya menjadikan alat musik bambu itu sebagai ikon budaya Sunda, tapi juga sebagai sarana pemberdayaan yang menyelamatkan ratusan keluarga dari kemiskinan. Namun, di balik gemerlapnya pertunjukan yang menarik ribuan wisatawan setiap hari, tersembunyi cerita perjuangan yang jarang terungkap.

SAUNG SEBAGAI “RUMAH” BUAT WARGA DESA

Ketika Mang Udjo mendirikan Saung Angklung Udjo di kawasan Padasuka tahun 1966, tujuan utamanya bukan sekadar mencari untung. Ia melihat banyak warga desa sekitar yang kesulitan mencari nafkah akibat terbatasnya lahan pertanian. “Pak Udjo bilang, ‘bambu yang ada di sekitar kita bisa jadi rejeki, asal kita tahu cara mengolahnya’,” ujar Siti Aminah (62), salah satu instruktur pertama yang sudah bergabung sejak tahun 1970.

Dari awal berdirinya, saung ini tidak hanya mengajarkan cara memainkan angklung, tapi juga membina generasi muda untuk menguasai keterampilan membuat alat musik tersebut. Setiap bulannya, puluhan keluarga mendapatkan pendapatan dari produksi angklung, penjualan oleh-oleh khas, dan honor dari pertunjukan. Bahkan, saat pandemi melanda tahun 2020 yang membuat wisatawan hilang total, saung tetap mencoba bertahan dan memberikan bantuan dasar kepada anggota komunitasnya.

PERJUANGAN MELINDUNGI IDENTITAS BUDAYA
Namun, perjuangan tidak berhenti di situ. Seiring dengan popularitas angklung yang merambah dunia, muncul berbagai upaya eksploitasi tanpa memperhatikan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Beberapa perusahaan luar daerah bahkan mencoba membuat angklung dengan bahan buatan dan menjualnya dengan label “produk asli Sunda”, tanpa memberikan manfaat apapun bagi komunitas yang sebenarnya menjaga tradisi ini.

“Kita tidak keberatan kalau angklung dikenal luas, tapi jangan sampai nilai dasarnya hilang. Setiap bambu yang digunakan punya cerita, setiap nada yang dihasilkan punya makna dari leluhur kita,” jelas Rudi Wijaya (45), putra Mang Udjo yang kini mengelola saung. Ia menambahkan bahwa pihaknya terus berjuang untuk mendapatkan perlindungan hukum terhadap produksi angklung asli Sunda, agar tidak hanya menjadi komoditas semata.

HARAPAN UNTUK MASA DEPAN
Dengan semakin maraknya acara seperti Kompetisi Angklung Umum yang akan digelar pada 2 Juli mendatang di Graha Manggala Siliwangi, komunitas berharap momentum ini bisa lebih memperkuat posisi angklung sebagai alat musik yang tidak hanya indah didengar, tapi juga membawa perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat. “Kita ingin angklung tidak hanya jadi simbol budaya, tapi juga jembatan untuk mengangkat martabat warga desa yang selama ini menjaga warisan leluhur,” tutup Rudi./red

Exit mobile version