Jakarta – Di negeri yang mengaku menjunjung tinggi hukum, sebuah pertanyaan sederhana layak diajukan: bagaimana mungkin aparat penegak hukum disebut “bodoh” di ruang publik, tanpa rasa canggung, tanpa beban etik?
Pernyataan emosional dari oknum dalam kasus yang menyeret nama Amsal mungkin bagi sebagian orang hanya dianggap luapan sesaat. Tapi jika dicermati lebih dalam, ini bukan sekadar soal kata-kata. Ini adalah cermin cara pandang—tentang bagaimana hukum ditempatkan, dan seberapa jauh ia dihormati.
Kita tentu tidak sedang membahas apakah jaksa selalu benar. Kritik terhadap aparat penegak hukum adalah bagian sehat dari demokrasi. Namun ada garis tipis yang sering dilupakan: antara kritik dan delegitimasi. Ketika kritik berubah menjadi caci maki, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi individu, melainkan wibawa institusi.
Masalahnya menjadi lebih serius ketika pernyataan seperti itu datang dari lingkar kekuasaan.
Sebab dalam ekosistem demokrasi, relasi antara politik dan hukum seharusnya saling menjaga jarak.
Politik boleh berbeda kepentingan, tetapi hukum harus tetap berdiri di atas prinsip, bukan tekanan.
Jika hari ini jaksa bisa dengan mudah diremehkan di ruang publik, maka esok hari bukan tidak mungkin putusan hukum juga akan dipertanyakan bukan karena substansinya, melainkan karena siapa yang lebih keras bersuara.
Di titik ini, hukum perlahan kehilangan otoritasnya—bukan karena ia salah, tapi karena ia dibiarkan dilemahkan.
Inilah yang kerap luput dari perhatian. Demokrasi tidak selalu runtuh oleh pelanggaran besar. Ia justru lebih sering terkikis oleh hal-hal yang dianggap sepele: ucapan yang merendahkan, sikap yang abai, dan pembiaran yang berulang.
Kita perlu jujur melihat persoalan ini. Ketika emosi politik mulai mengalahkan rasionalitas hukum, maka yang sedang diuji bukan hanya kesabaran aparat, tetapi juga kedewasaan kita sebagai bangsa.
Sebab pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang benar dalam satu kasus.
Buntutnya, apakah kita masih ingin hukum dihormati, atau mulai terbiasa melihatnya ditertawakan?/djohar
