Langkah Kapolri sowan ke Gus Baha bisa dibaca sebagai upaya mencari keseimbangan antara kekuasaan negara dan kebijaksanaan moral. Di tengah situasi sosial yang kerap panas—baik karena isu politik, hukum, maupun ketegangan horizontal—figur ulama seperti Gus Baha punya posisi unik: tidak berada di struktur formal negara, tapi memiliki pengaruh besar di akar rumput.
Polri, sebagai institusi penegak hukum, sering berada di titik kritis: di satu sisi harus tegas, di sisi lain dituntut humanis. Di sinilah “sowan” menjadi penting—bukan untuk meminta legitimasi, tapi untuk menyerap nilai. Gus Baha dikenal dengan pendekatan keagamaan yang sejuk, rasional, dan jauh dari provokasi. Nilai-nilai seperti ini yang tampaknya ingin “ditarik” ke dalam pendekatan keamanan negara.
Isyarat Politik yang Halus
Di Indonesia, gestur seperti ini juga tidak bisa dilepaskan dari konteks politik. Mendekati tokoh agama karismatik adalah cara halus untuk menjaga stabilitas. Bukan dalam arti transaksional, tapi lebih pada membangun “jembatan komunikasi” antara negara dan umat.
Apalagi, di era ketika opini publik mudah terbelah, suara tokoh seperti Gus Baha bisa menjadi penyejuk. Ketika negara hadir tidak hanya dengan pendekatan hukum, tapi juga pendekatan kultural, potensi konflik bisa lebih mudah diredam.
Polisi dan Legitimasi Moral
Kepercayaan publik terhadap institusi hukum adalah hal yang terus diuji. Sowan ini bisa dibaca sebagai bentuk kesadaran bahwa legitimasi tidak cukup dibangun lewat aturan dan kekuasaan, tapi juga lewat kedekatan dengan nilai-nilai moral yang hidup di masyarakat.
Dengan kata lain, Kapolri tampak sedang mengirim pesan: polisi tidak berdiri di menara gading, tapi mau turun, mendengar, dan belajar.
Penutup
Pada akhirnya, sowan ke Gus Baha bukan sekadar kunjungan personal. Ia adalah simbol bahwa di negeri ini, kekuasaan masih merasa perlu “menunduk” pada kebijaksanaan. Dan mungkin, justru di situlah letak kekuatan Indonesia: ketika negara dan ulama tidak saling mendominasi, tapi saling mengingatkan.
*djohar
