Indeks

Seloroh Ray Rangkuti: Sedihnya Jadi WNI

Ray Rangkuti

Kalimat singkat yang dilontarkan Ray Rangkuti ini bukan sekadar keluhan, bukan sekadar ucapan marah. Ia adalah cermin besar yang diletakkan tepat di hadapan wajah negeri ini, mencerminkan apa yang telah dirasakan, dilihat, dan dialami jutaan rakyat setiap hari: ketidakberdayaan.

“Rakyat kita mau ngadu ke mana?” — pertanyaan ini yang paling menyayat hati. Karena di mana-mana tempat yang seharusnya menjadi tempat mengadu, tempat perlindungan, tempat membenahi kesalahan, justru menjadi bagian dari lingkaran yang sama:

– Di tingkat atas, uang negara yang seharusnya untuk rakyat, berputar ke kantong pribadi. Korupsi bukan lagi hal yang tersembunyi, sudah menjadi “budaya” yang dianggap biasa, bahkan menjadi syarat untuk bisa bergerak.

Di tingkat tengah, orang yang diberi tugas melayani, malah meminta biaya tambahan. Urusan yang seharusnya cepat, jadi lambat. Urusan yang seharusnya gratis, jadi berbayar. Suap bukan lagi permintaan, sudah dianggap sebagai “hak” mereka.

Di tingkat paling bawah, yang seharusnya menjadi garda terdepan untuk menjaga Keamanan dan keselamatan, malah mengambil keuntungan pribadi. Memeras, mengambil bagian, membuat orang kecil semakin stres.

Hal yang paling menyakitkan adalah: Rakyat tidak lagi mempunyai tempat untuk berlindung. Saat hukum tidak adil, saat pejabat tidak jujur, saat orang yang berkuasa bertindak sewenang-wenang — orang biasa cuma bisa diam, cuma bisa menghela napas, cuma bisa bertanya dalam hati: kalau di sini saja tidak adil, ke mana lagi saya harus pergi?

Kalimat Ray Rangkuti ini adalah teriakan yang tidak bersuara. Ia mewakili perasaan jutaan orang yang lelah, kecewa, dan mulai kehilangan harapan. Bukan karena mereka tidak mau berbakti, bukan karena mereka tidak mencintai negeri ini — tapi karena negeri ini yang perlahan memulihkan punggung mereka.

Pesan intinya sederhana, tapi tajam: Kalau mereka yang diberi amanah malah menjadi sumber masalah, lalu untuk apa kita punya pemerintahan, lembaga negara, dan aturan hukum? / merah

Exit mobile version