Sipil Tak Harus Lemah: Pelajaran dari Juwono Sudarsono

Jakarta – Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) era Presiden Gus Dur dan SBY, Prof. Juwono Sudarsono, akhirnya dimakamkan pada Minggu, 29 Maret 2026, di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Sebelum dimakamkan, jenazah disemayamkan di Gedung Urip Sumoharjo, Kementerian Pertahanan RI, Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Prosesi pelepasan jenazah dilakukan dengan penghormatan penuh dari Kementerian Pertahanan RI.

Di negeri yang lama dibesarkan oleh bayang-bayang seragam, kita sering terjebak pada asumsi usang: bahwa urusan pertahanan harus dipegang oleh mereka yang lahir dari barak. Seolah-olah nasionalisme hanya tumbuh dari disiplin militer, bukan dari kedalaman nalar.

Namun sejarah pernah membantahnya—dengan tenang, tanpa teriak.

Juwono Sudarsono adalah bukti bahwa sipil bukan berarti lemah. Ia bukan jenderal, bukan pula produk akademi militer. Tapi justru dari latar akademisi dan intelektual, ia membawa perspektif yang sering hilang dalam kebijakan pertahanan: rasionalitas, diplomasi, dan keberanian berpikir jangka panjang.

Di tangannya, pertahanan bukan sekadar soal senjata, tapi soal posisi bangsa dalam percaturan global. Ia memahami bahwa ancaman tak selalu datang dengan peluru—kadang hadir lewat ketergantungan, ketimpangan, dan kebodohan strategis.

Inilah yang sering luput hari ini.

Kita terlalu sibuk mengukur kekuatan dari derap sepatu, tapi lupa mengasah isi kepala. Padahal, pertahanan modern justru menuntut kombinasi: militer yang kuat dan sipil yang cerdas. Tanpa itu, negara hanya akan gagah di luar, rapuh di dalam.

Penunjukan sipil sebagai Menteri Pertahanan bukanlah kelemahan. Itu justru tanda kedewasaan demokrasi—bahwa kontrol atas kekuatan bersenjata berada di tangan rakyat, melalui wakil sipilnya. Dan jika masih ada yang meragukan kapasitas sipil, maka nama Juwono Sudarsono sudah cukup menjadi jawaban.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: bisakah sipil memimpin pertahanan?

Tapi: apakah kita masih berani memberi ruang bagi akal sehat, atau justru kembali nyaman dalam romantisme kekuasaan lama?

Selamat jalan, Mas…

/redkkn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *