Jakarta – Nama Yenna Yuliana mendadak jadi sorotan nasional. Sosoknya tak dikenal tetangga, tak pernah jadi perbincangan dunia usaha besar, tapi tiba-tiba memegang proyek pengadaan motor listrik Badan Gizi Nasional senilai Rp2,4 triliun. Lewat PT Yasa Artha Trimanunggal, dia mengamankan pasokan 25.000 unit motor dengan harga satuan hampir Rp50 juta—padahal model serupa di pasar internasional cuma kisaran Rp9–10 juta per unit.
Publik bertanya tajam: Kalau Dadan Hindayana dkk langsung ditangkap, kenapa Yenna—pihak yang terima uang triliunan—masih melenggang bebas?
Sosok Misterius, Proyek Fantastis
Yenna bukan nama besar. Tetangga di sekitar kantornya tak kenal, jejak bisnisnya sedikit, bahkan pernah kalah hukum dan wanprestasi di kasus PT Pos Indonesia senilai Rp65 miliar. Tapi dia bisa menang tender raksasa, nilai paling besar di sejarah pengadaan barang pemerintah belakangan ini. Pertanyaan utama: Koneksi siapa yang bikin dia bisa menang? Dan kenapa sampai sekarang belum diseret Kejagung?
Dua Ukuran Hukum Lagi?
Ini kontradiksi paling menyakitkan. Di satu sisi, pejabat BGN dicopot sore, paginya sudah di rompi oranye, borgol, masuk tahanan. Di sisi lain, pemenang tender yang terima uang negara Rp2,4 triliun—yang jadi sumber aliran dana—masih aman, belum dipanggil, apalagi ditetapkan tersangka.
Kejagung berdalih masih mendalami aliran dana, memisahkan pidana pejabat dan perdata penyedia barang. Tapi rakyat tak percaya lagi: Tanpa penerima uang, tak ada korupsi. Tanpa penyedia yang markup harga 5 kali lipat, tak ada kerugian negara.
LSM GERRAM INDONESIA kembali menegaskan: hukum tak boleh tebang pilih. Kalau Dadan dan kawan-kawan salah, maka Yenna Yuliana dan perusahaannya harus diseret juga, diperiksa, ditahan, dan diadili. Jangan sampai terkesan hanya pejabat yang jadi kambing hitam, sementara pihak swasta yang paling untung malah dilindungi.
Ke Mana Uang Selisihnya?
Harga motor Rp9 juta dijual ke negara Rp49,95 juta. Selisihnya Rp40 juta per unit, total ratusan miliar sampai lebih Rp1 triliun. Uang itu ke mana? Dibagi ke siapa? Itulah inti korupsi. Selama Yenna belum diperiksa habis-habisan, kebenaran tak akan terungkap.
KabarKami.News tetap netral, tapi fakta bicara:
Kejagung harus berani. Jangan biarkan rakyat bertanya: Apa bedanya pejabat yang terima suap sama pengusaha yang kasih uang dan ambil untung berlebihan?
Yenna Yuliana harus segera dipanggil, diperiksa, dan kalau ada bukti, ditetapkan tersangka. Kalau tidak, kasus ini makin meyakinkan: Hukum kita cuma galak ke pejabat yang jatuh, tapi lemah ke pengusaha yang punya koneksi.
Alhasil, namanya keadilan harus sama, untuk siapa saja, berapa pun nilainya.!/redkk
