Berita  

HARI JADI SUMEDANG KE-448 – MERAJUT Kadeuleu, Karasa, Karampa Dalam Era Transformasi

Hari Jadi ke-448: Sumedang Harusnya Lebih dari Hanya Pesta Tahunan

Pada 22 April 2026, Sumedang merayakan hari jadi ke-448 dengan tema “Kadeleu, Karasa, Karampa” – tiga nilai lokal yang menjadi jiwa masyarakatnya. Kadeleu (gotong royong), Karasa (rasa persaudaraan), dan Karampa (semangat kerja sama) bukan sekadar kata-kata indah di poster perayaan, melainkan pondasi yang seharusnya menggerakkan transformasi daerah. Namun, pertanyaan besarnya: apakah makna filosofis tersebut benar-benar terefleksikan dalam kebijakan dan perkembangan Sumedang saat ini?

Potensi Budaya yang Harusnya Jadi Motor Pertumbuhan

Poster dengan latar bangunan tradisional, wayang, dan kendang menunjukkan kekayaan budaya Sumedang yang tak terbantahkan. Kabupaten ini punya warisan sejarah dan seni yang bisa dijadikan daya tarik pariwisata berkelanjutan. Namun, data menunjukkan bahwa kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB Sumedang masih jauh di bawah potensinya. Banyak situs budaya dan destinasi alam belum mendapatkan dukungan infrastruktur dan promosi yang optimal, sehingga hanya dikenal di tingkat lokal saja.

Nilai Lokal vs Realitas Pembangunan

Kadeleu seharusnya terwujud dalam kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha untuk membangun daerah. Namun, beberapa kasus menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan terkadang kurang melibatkan partisipasi masyarakat secara mendalam. Hal ini menyebabkan beberapa proyek gagal menjawab kebutuhan aktual warga atau bahkan merusak zona lingkungan dan budaya. Sementara itu, Karasa dan Karampa perlu diwujudkan dalam keadilan ekonomi – mengurangi kesenjangan antara perkotaan dan pedesaan, serta memastikan hasil pembangunan dirasakan oleh semua lapisan.

Tantangan di Depan

Hari jadi ke-448 harus menjadi momentum refleksi dan aksi nyata. Pemerintah daerah perlu lebih serius dalam melindungi dan mengembangkan warisan budaya sebagai aset ekonomi. Selain itu, perlu ada sinergi yang lebih kuat antara pemangku kepentingan untuk menerapkan nilai-nilai lokal dalam setiap kebijakan, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. Tanpa itu, “Kadeleu, Karasa, Karampa” hanya akan menjadi slogan kosong tanpa makna nyata bagi kemajuan Sumedang./red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *