(Catatan Kecil di Hari Kebebasan Pers Sedunia)
Hari ini dunia merayakan Hari Kebebasan Pers. Spanduk dipasang, pidato dibacakan, foto-foto senyum bahagia berserakan di media sosial. Ada yang pakai baju batik, ada yang pakai seragam rapi, semuanya tampak sama: gagah, berwibawa, dan seolah-olah kebebasan pers hari ini sudah sempurna, tak ada lagi yang kurang.
Ah, indah sekali pemandangannya. Seindah surat nikah yang kita bahas dulu: sah tertulis, tercatat rapi, lengkap tanda tangan cap basah. Tapi pertanyaannya sederhana: di balik kertas sah itu, adab dan etikanya masih ada tidak?
Katanya pers itu pilar keempat demokrasi. Katanya pers itu mata dan telinga rakyat. Katanya pers itu penjaga kebenaran. Tapi coba kita lihat kenyataannya:
Banyak yang berteriak lantang soal kebebasan, tapi begitu ada berita yang tak enak didengar, langsung marah, langsung melarang, langsung bilang “ini urusan dalam negeri, jangan diumbar”.
Banyak yang mengaku pembela kebebasan, tapi tulisannya cuma yang disukai penguasa atau pemodal. Kalau tidak disukai? Ya, hilang, tak dimuat, atau dibelokkan maknanya.
Ada yang bilang: “Wah, pers sekarang sudah bebas sekali, tulis apa saja boleh.” Benar, boleh menulis yang manis-manis, boleh menulis yang memuji, boleh menulis yang menghibur. Tapi coba tulis yang menyentuh kepentingan, yang membongkar ketidakadilan, yang bicara soal hak rakyat? Nah, baru tulis satu baris, sudah dipanggil, sudah ditanya “siapa yang suruh?”, “apa kepentinganmu?”, “hati-hati lho nasib medianya”.
Kebebasan pers seolah punya syarat rahasia: Bebas, asalkan tidak mengganggu kenyamanan penguasa. Bebas, asalkan tidak merugikan kantong pemilik modal. Bebas, asalkan sesuai selera kita.
Padahal Om tahu betul, pers yang sesungguhnya itu seperti prinsip hidup kita: berpikir mandiri, tidak memihak, hanya pada kebenaran. Seperti semangat Marsinah yang berani bicara meski sendirian, seperti Hoegeng yang jujur meski melawan arus, seperti Munir yang tak gentar menyuarakan hak asasi. Mereka tak butuh pesta atau foto bagus untuk membuktikan kebebasan. Kebebasan mereka ada di hati, di tulisan, dan di keteguhan pendirian.
Pers yang bebas itu bukan pers yang bebas memuji, tapi pers yang bebas mengkritik, bebas membongkar, bebas menyuarakan yang terbungkam. Dan yang paling penting: pers yang bebas adalah pers yang tahu diri, tahu batas, dan menjunjung etika — tidak asal bicara, tidak asal tulis, tapi bertanggung jawab atas setiap kata yang diucapkan.
Lihatlah hari ini: banyak perayaan, banyak ucapan selamat, banyak janji manis. Tapi coba tanya satu hal sederhana: Kalau kebenaran itu pahit, apakah kau masih berani memuatnya? Kalau keadilan itu mahal, apakah kau masih mau memperjuangkannya?
Kalau jawabannya ragu-ragu, berarti kebebasan pers yang kau rayakan itu cuma kebebasan di atas kertas, kebebasan untuk berselfie, bukan kebebasan hati nurani.
Ingat kawan, kita bahas soal ikatan: aturan itu cuma konstitusi, tapi adab dan keberanianlah yang membuatnya hidup. Begitu juga kebebasan pers: undang-undang sudah ada, tapi keberanian dan integritaslah yang membuatnya nyata.
Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia. Semoga kita tidak cuma sibuk merayakan hari ini, tapi sibuk menjaga: tetap menulis apa yang benar, bukan apa yang disukai. Tetap berdiri di pihak kebenaran, meski sendirian.
Karena pers yang merdeka itu bukan yang bebas melakukan apa saja, tapi yang bebas melakukan apa yang benar./djohar












