KabarKami.News – Jakarta – Dunia sepak bola kembali dihebohkan kontroversi menyangkut ofisial VAR asal Australia, Shaun Evans, yang menjadi sorotan karena gestur tangan yang dianggap menyerupai simbol supremasi kulit putih. Insiden tersebut terjadi menjelang pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Jerman melawan Curaçao, yang kemudian memicu desakan dari sejumlah organisasi anti-diskriminasi agar FIFA mengambil tindakan tegas.
Setelah melakukan penyelidikan mendalam, FIFA mengumumkan tidak menemukan bukti pelanggaran disiplin terhadap Evans. Federasi sepak bola dunia tersebut juga menerima penjelasan dari sang ofisial bahwa gerakan yang dilakukan merupakan tindakan tidak disengaja atau “subconscious twitch”.
Meskipun kasus ini telah mendapatkan klarifikasi, polemik yang muncul kembali membuka diskusi mengenai integritas dan kredibilitas perangkat pertandingan di sepak bola dunia. Di Indonesia, nama Shaun Evans bukanlah sosok yang asing, mengingat ia pernah memimpin sejumlah pertandingan penting di tanah air, termasuk laga sarat gengsi antara Persib Bandung dan Persija Jakarta pada musim 2017.
Pada pertandingan yang berlangsung sangat panas tersebut, sejumlah keputusan yang diambil Evans menuai kritik dari berbagai kalangan. Pendukung kedua klub sempat memperdebatkan beberapa keputusan yang dinilai memiliki pengaruh terhadap jalannya pertandingan. Hingga kini, laga Persib kontra Persija tahun 2017 masih sering disebut sebagai salah satu pertandingan paling kontroversial dan menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan pecinta sepak bola nasional.
Munculnya nama Shaun Evans dalam kontroversi terbaru membuat sebagian suporter Indonesia kembali mengingat perdebatan lama tersebut. Di berbagai platform media sosial, tidak sedikit yang mengaitkan insiden terkini dengan rekam jejak Evans saat memimpin pertandingan di kawasan Asia, termasuk dalam kompetisi sepak bola Indonesia.
Namun perlu ditegaskan bahwa kontroversi yang terjadi saat ini memiliki konteks yang berbeda dengan keputusan-keputusan pertandingan yang pernah diperdebatkan sebelumnya. FIFA sendiri telah menegaskan tidak ada unsur pelanggaran dalam kasus gestur tangan tersebut dan Evans tetap melanjutkan tugasnya sebagai ofisial di turnamen.
Kasus ini menunjukkan bahwa di era media sosial, setiap tindakan dari wasit maupun ofisial pertandingan dapat dengan cepat menjadi sorotan global. Bagi publik sepak bola Indonesia, polemik yang melibatkan Shaun Evans juga menjadi pengingat bahwa isu perwasitan selalu menjadi bagian yang sangat sensitif dalam olahraga paling populer di dunia ini./agus-suhe
