Kabar bahwa Presiden mengundang sejumlah jurnalis dan ahli komunikasi—termasuk Najwa Shihab—bukan sekadar peristiwa biasa. Dalam lanskap demokrasi, setiap pertemuan antara kekuasaan dan pengawasnya selalu mengandung makna yang lebih dalam.
Pertanyaannya sederhana, tapi krusial:
ini ruang dialog, atau ruang pengelolaan narasi?
Di Antara Keterbukaan dan Kepentingan
Dalam sisi ideal, pertemuan seperti ini patut diapresiasi. Pemerintah membuka ruang komunikasi dengan pihak yang selama ini dikenal kritis. Ada peluang:
menyampaikan masukan langsung
memperbaiki kebijakan
memperkuat transparansi
Namun politik tidak pernah steril dari kepentingan.
Setiap ruang yang dibuka oleh kekuasaan juga bisa menjadi ruang untuk:
meredam kritik
membangun kedekatan
atau mengarahkan persepsi publik
Di sinilah garis antara dialog dan strategi menjadi tipis.
Jurnalis: Mengawasi, Bukan Menjadi Bagian
Peran jurnalis dalam demokrasi bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi:
menguji kekuasaan
mempertanyakan kebijakan
dan menjaga akuntabilitas
Ketika jurnalis masuk ke ruang kekuasaan, tantangan terbesarnya adalah menjaga jarak.
Karena kedekatan yang terlalu hangat berisiko melahirkan:
kritik yang melunak,
atau bahkan diam yang dibungkus sopan santun.
Publik Berhak Tahu
Pertemuan tertutup selalu menyisakan satu masalah: spekulasi.
Publik berhak mengetahui:
apa yang dibahas
apa yang dikritik
dan apa yang disepakati
Tanpa transparansi, ruang dialog justru bisa berubah menjadi: ruang eksklusif yang menjauh dari rakyat.
Ujian Integritas Ada Setelah Pertemuan
Yang paling penting bukan apa yang terjadi di dalam ruangan, tetapi apa yang terjadi setelahnya.
Apakah:
jurnalis tetap kritis?
pertanyaan tetap tajam?
atau justru nada pemberitaan berubah lebih lunak?
Di situlah integritas diuji.
Penutup: Demokrasi Butuh Jarak Sehat
Demokrasi tidak membutuhkan kedekatan yang berlebihan antara kekuasaan dan pengawasnya. Yang dibutuhkan adalah hubungan yang sehat:
cukup dekat untuk berdialog
cukup jauh untuk tetap kritis
Pertemuan ini bisa menjadi langkah maju dalam komunikasi politik. Namun juga bisa menjadi awal dari pengelolaan narasi yang lebih halus.
Pada akhirnya, bukan undangannya yang menentukan—tetapi sikap setelah duduk bersama: tetap independen, atau perlahan berkompromi.*djohar
Ketika Jurnalis Diundang ke Istana: Dialog atau Pengelolaan Narasi?












