Majalengka – Reses sering kali dipahami sekadar jeda dari rutinitas sidang. Padahal, bagi sebagian anggota legislatif, masa ini justru menjadi momen paling “hidup” untuk kembali menyentuh denyut masyarakat. Itulah yang tampak dari langkah Dasim Raden Pamungkas yang tetap turun ke lapangan di tengah suasana bulan Ramadan.
Di saat banyak aktivitas publik melambat karena ritme ibadah dan keterbatasan waktu, kehadiran wakil rakyat justru diuji. Apakah mereka ikut “beristirahat”, atau tetap hadir menjawab kebutuhan konstituen? Pilihan untuk tetap melakukan reses di bulan puasa bukan sekadar soal kerja, tetapi juga soal komitmen dan empati. Sebab, justru di bulan ini, persoalan masyarakat sering kali terasa lebih nyata—mulai dari kebutuhan bahan pokok, bantuan sosial, hingga stabilitas ekonomi keluarga kecil.
Sebagai kader Partai Golkar, langkah Dasim bisa dibaca sebagai upaya menjaga tradisi politik yang mengakar pada kedekatan dengan masyarakat. Reses bukan hanya forum seremonial, melainkan ruang mendengar: keluhan petani, kegelisahan pelaku UMKM, hingga aspirasi generasi muda. Dalam konteks ini, kehadiran fisik menjadi simbol bahwa politik tidak boleh berjarak.
Namun, tentu saja publik juga semakin kritis. Kehadiran di lapangan harus dibarengi dengan tindak lanjut nyata. Aspirasi yang ditampung tak boleh berhenti sebagai catatan, melainkan harus diperjuangkan dalam kebijakan. Di sinilah ukuran sebenarnya: bukan seberapa sering turun, tetapi seberapa kuat memperjuangkan hasil pertemuan itu di ruang legislatif.
Bulan Ramadan memberi dimensi moral pada aktivitas politik. Ia bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari sikap abai terhadap rakyat. Maka, ketika seorang wakil rakyat tetap bergerak di tengah keterbatasan, publik berhak berharap lebih: bahwa apa yang didengar hari ini, akan menjadi kebijakan yang berpihak esok hari.
Pada akhirnya, reses bukan sekadar kewajiban formal, melainkan ujian integritas. Dan langkah untuk tetap menemui konstituen di bulan puasa adalah pesan sederhana—bahwa pelayanan publik tak mengenal jeda.*djohar












