Mudik seharusnya menjadi perjalanan pulang. Pulang ke keluarga, pulang ke akar, pulang ke nilai-nilai kemanusiaan. Namun yang terjadi di sejumlah ruas jalan tahun ini justru sebaliknya.
Cipali, Bandung–Tasik, dan berbagai jalur lain kembali memakan korban. Pertanyaannya tak bisa lagi dihindari: kita ini sedang mudik… atau sedang balapan?
Di balik kemudi, banyak yang lupa—bahwa jalan raya bukan ruang pribadi. Ia adalah ruang bersama, tempat nyawa orang lain ikut dipertaruhkan. Kecepatan dipacu, batas dilanggar, lelah diabaikan. Semua atas nama satu hal: ingin cepat sampai.
Padahal, yang menunggu di rumah bukanlah kecepatan. Mereka menunggu keselamatan.
Ironisnya, di tengah suasana Idul Fitri yang sarat makna pengendalian diri, justru banyak yang kehilangan kendali di jalan.
-
Apa arti kemenangan, jika diraih dengan mempertaruhkan nyawa?
-
Apa makna pulang, jika yang tiba hanya kabar duka?
Ini bukan semata soal infrastruktur. Ini soal kesadaran. Soal kedewasaan. Soal nurani. Selama jalan raya masih diperlakukan seperti sirkuit, selama ego lebih besar dari empati, maka tragedi akan terus berulang—dengan wajah yang berbeda, tapi cerita yang sama.
KabarKami.News mengajak semua pihak untuk berhenti sejenak dan merenung: bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab petugas, tetapi tanggung jawab setiap manusia yang memegang kemudi.
Mudik bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Tetapi siapa yang paling utuh kembali. Jika tidak, maka yang pulang bukanlah kebahagiaan—melainkan penyesalan yang datang terlambat.
Selamat Idul Fitri. Jangan biarkan perjalanan suci ternodai oleh ambisi yang tak perlu.
*djohar












