Aceh — Kabar duka datang dari Sungai Luan Boya, Desa Bulu Hadek, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue, Aceh. Seorang warga menjadi korban serangan buaya. Peristiwa ini bukan sekadar tragedi. Ia adalah peringatan.
Selama ini, setiap kali konflik antara manusia dan satwa liar terjadi, kita cenderung bertanya: mengapa buaya menyerang manusia? Namun jarang kita bertanya lebih dalam: siapa yang lebih dulu memasuki wilayah siapa?
Sungai, rawa, dan hutan adalah habitat alami satwa. Di sanalah mereka hidup, berkembang, dan menjaga keseimbangan ekosistem. Namun perlahan, ruang itu menyempit. Alih fungsi lahan, aktivitas manusia di bantaran sungai, dan perubahan lingkungan membuat batas antara manusia dan alam kian kabur.
Buaya tidak tiba-tiba menjadi agresif tanpa sebab. Ia bereaksi. Ia bertahan. Ia mengikuti naluri. Dan ketika ruang hidupnya terganggu, konflik menjadi tak terhindarkan.
Tragedi di Simeulue seharusnya menjadi cermin bagi kita semua: bahwa pembangunan tanpa keseimbangan akan melahirkan konsekuensi. Ini bukan tentang menyalahkan korban. Ini tentang memahami bahwa keselamatan manusia dan kelestarian alam harus berjalan beriringan.
Negara dan pemerintah daerah perlu hadir lebih konkret:
-
Memberikan edukasi yang intensif.
-
Menetapkan zona aman yang jelas.
-
Memastikan masyarakat tidak dibiarkan hidup berdampingan tanpa perlindungan dengan ancaman nyata.
Sebab pada akhirnya, konflik ini bukan sekadar tentang manusia versus buaya. Ini tentang bagaimana kita memperlakukan alam. Jika alam terus didesak, maka bukan tidak mungkin, tragedi serupa akan terulang dengan korban yang berbeda, di tempat yang berbeda.
Alam tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya menunggu waktu untuk menjawab perlakuan kita.
/ timkerja












