Antara Harapan dan Luka yang Berulang

Jakarta – Kabar tentang kondisi mata Andrie Yunus menyisakan dua rasa sekaligus: harapan dan kecemasan. Secara medis, kerusakan sel punca kornea sebesar 40 persen masih membuka peluang pemulihan—tidak separah yang pernah dialami Novel Baswedan. Tapi justru di situlah letak ironi kita: kita dipaksa merasa “lega” di tengah sebuah kekerasan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Ini bukan sekadar soal seberapa besar peluang sembuh. Ini soal mengapa pola serangan seperti ini terus berulang. Air keras bukan alat spontan; ia adalah simbol kebencian yang direncanakan, dan dalam banyak kasus, diiringi oleh bayang-bayang impunitas.

Ingatan Publik yang Dikikis Waktu

Kita pernah marah, kita pernah berjanji tidak akan lupa saat kasus Novel mengguncang negeri ini. Tapi waktu berjalan, dan ingatan publik perlahan dikikis oleh rutinitas. Kini, ketika peristiwa serupa kembali terjadi, kita seperti mengulang bab yang sama, dengan aktor berbeda dan luka yang nyaris serupa.

Di titik ini, reformasi penegakan hukum kembali dipertanyakan. Kepolisian Negara Republik Indonesia tidak cukup hanya hadir sebagai penyelidik, tetapi harus menjawab satu hal mendasar: apakah negara benar-benar mampu melindungi warganya yang bersuara kritis?

Budaya Ketakutan

Karena jika tidak, maka yang sedang kita rawat bukan hanya korban—melainkan juga budaya ketakutan. Dan dalam budaya seperti itu, harapan sembuh bukan lagi kabar baik sepenuhnya, melainkan pengingat pahit bahwa luka serupa bisa saja kembali terjadi, pada siapa saja, kapan saja.

/djohar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *