Berita  

Maaf Lahir Batin, Ditutup Dengan Joget

Bandung – Lebaran selalu datang dengan pesan yang sama: kembali ke fitrah. Idul Fitri mengajarkan kita untuk merendahkan hati, mengalahkan ego, dan jujur dalam meminta maaf. Itu inti yang tak pernah berubah—meski zaman terus bergerak.

Di ruang-ruang keluarga, kalimat “mohon maaf lahir batin” diucapkan berulang. Tangan saling berjabat, pelukan hangat dibagi, air mata kadang ikut jatuh. Sekilas, semuanya terasa sakral. Seolah luka-luka lama benar-benar luruh dalam satu momen.

Antara Kesakralan dan Euforia

Tapi ada yang mengganjal ketika semua itu berakhir di panggung hiburan. Organ tunggal dinyalakan, musik dangdut mengalun, dan suasana berubah drastis. Dari yang tadinya khidmat menjadi riuh; dari yang semula reflektif bergeser menjadi euforia semata.

Tidak ada yang salah dengan bergembira. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah ini masih perayaan jiwa, atau sudah berubah jadi pelampiasan suasana? Ketika permohonan maaf baru saja diucapkan, tapi beberapa jam kemudian larut dalam hingar-bingar tanpa batas, ada jarak yang terasa—antara nilai yang diucap dan perilaku yang ditampilkan.

Esensi yang Tergerus Panggung

Lebaran seharusnya tidak butuh panggung untuk terasa berarti. Ia cukup hadir dalam hati yang mau merendah, ego yang mau mengalah, dan kejujuran untuk benar-benar meminta maaf. Namun hari ini, semua itu sering terasa seperti sekadar “pembuka acara”—sebelum akhirnya ditutup dengan joget malam hari.

Dan di situlah ironi itu berdiri: kita membersihkan hati di siang hari, lalu merayakannya dengan cara yang justru membuat kita lupa—untuk apa kita dibersihkan.

/basir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *